KAJIAN ONLINE UHAMKA DORMITORY: AKTUALISASI NILAI-NILAI ISLAM DI ERA MASYARAKAT 4.0.

JAKARTA, Kamis 23 Juli 2020,  Pukul 19.30 WIB, UHAMKA DORMITORY (Rusunawa UHAMKA) melaksanakan kegiatan  Kajian Online dengan mengangkat tema “Aktualisasi Nilai-Nilai Islam di Era Masyarakat 4.0.” kegiatan tersebut dihadiri oleh sekitar 60 peserta yang meliputi mahasantri dari FKIP, FEB, FT, FK dan mahasiswa UHAMKA lainnya. Selain mahasiswa, adapula karyawan, dosen, dan pimpinan UHAMKA yang turut serta dalam pengajian online tersebut. Adapun narasumber  pada kajian online seri ke #2 ini adalah Ust. Tohirin., S.Hi, M.Pd.I.

UHAMKA DORMITORY yang dimotori oleh Dr. Irwan Baadilla., M.Pd sebagai direktur (kepala UPT UHAMKA DORMITORY), melaksanakan kajian online tersebut sudah seri ke #2 setelah kajian rutin Ramadhan 1441 H yang dijalankan seminggu (2x) selama Ramadhan. Artinya memang kegiatan pengajian online ini menjadi agenda rutin bagi civitas UHAMKA DORMITORY dan civitas UHAMKA pada umumnya, sebagai upaya dalam mendukung terwujudnya visi UHAMKA yaitu Universitas utama yang menghasilkan lulusan unggul dalam kecerdasan spiritual, intelaktual, emosional, dan sosial. Pun secara jelas tertuang dalam misi UHAMKA pada poin 1) Menyelenggarakan pembinaan dan pengembangan Al Islam dan kemuhammadiyahan; dan 2) Menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran dengan prinsip belajar sepanjang hayat.

Uts. Tohirin sebagai narasumber yang juga merupakan wakil Dekan III FEB UHAMKA ini, membuka ceramahnya dengan uraian realitas perkembangan zaman dan corak perbedaannya. “semakin berkembang dan majunya zaman, manusia (dengan kelompoknya) pada akhirnya tidak lagi mesti berkumpul secara fisik, tapi dapat melalui dunia maya, maka perlu melihat potensi dakwah yang lebih compatible. Termasuk para dai’, ustadz-ustadzah, ulama, dan lain-lain mesti pandai memilah dan memilih platform yang cocok sesuai keadaan zaman.” Ujarnya.

Wakil dekan III FEB UHAMKA ini juga menambahkan “termasuk untuk generasi milenial yang harus cerdas mengalisis potensi-potensi dakwahdi era sekarang.” Artinya memang kemajuan zaman ini tidak terlepas dari dua kutub positif dan negatif yang saling tarik menarik. Akan menjadi potensi kebaikan yang luarbiasa bagi yang pandai menyesuaikan pola-pola dakwah, begitupun dampak negatif yang sukar dibendung jika generasi milenial gagap dan gugup dalam bermedia sosial, yang sekarang serba online.

“Merujuk kajian dalam Islam, pada dasarnya tak dapat dilepaskan dalam dua ajaran pokok yang mesti diperhatikan. Yaitu ada hal-hal yang dapat disesuaikan seperti dalam konteks muamalah misalnya jual beli, pernikahan, pola dakwah, hubungan bermasyarakat,  dan lain-lain,  ada pula yang tak adapat diubah-ubah yaitu seputar Aqidah dan Ibadah, meskipun terjadi perubahan zaman tentu ada batasan-batasan yang harus diperhatikan oleh kita sebagai umat Islam di era 4.0 yang serba digital seperti sekarang.” Jelasnya.

Terhitung mendekati durasi satu jam, Ust. Tohirin menguatkan dengan penegasan bahwa “pola dakwah pun mesti pandai menyesuaikan diri, jika dibandingkan dengan zaman dulu, dakwah yang terkesan kaku, dengan dakwah keliling atau dakwah hanya dimimbar-mimbar saja. Paling modern hanya menggunakan kaset dan radio. Sekarang lebih banyak lagi media dakwahnya. Supporting pola-pola dakwah virtual seperti menggunakan instagram, twitter, whatshapp, youtobe, podcast, tiktok dan lain-lain. Dengan hal tersebutlah kemudian sasaran dan jangkauan dakwah lebih luas dan diharapkan sampai pada generasi milenial bahkan lebih dari itu.”

Setelah kurang lebih satu jam pemaparan materi, moderator (Ihsan Suaeb) memperkenankan kepada peserta kajian untuk menganggapi, bertanya, menambahkan, dan lain sebagainya. Diskusi pun berjalan sangat interaktif bukan hanya mahasiswa, beberapa dosen dan pimpinan pun ikut menanggapi. Sehingga jalannya diskusi menjadi sangat cair dan terlihat peserta juga narasumber kajian bergembira menikmati obrolan wawasan keilmuan pada malam itu.

Sebagai closing statemen narasumber berpesan “banyak konten positif yang bisa kita pelajari. Banyak hal tentang Islam bisa pelajari dengan mudah. Kita harus menjadi orang yang Islam yang aktif dan kreatif dalam rangka dakwah Islam. Peran kita sangat penting, semua orang bisa menjadi dai’. Jika tidak, nanti ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang akan mengambil kendali.” Tutupnya. (ahlan)

Leave a Reply