Meningkatkan Kapasistas Diri Sebagai Kader Persyarikatan

Oleh: Acep Saepul Millah (ASM)

Ramadhan tahun 2020 merupakan Ramadhan yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Masa Pandemi Covid 19 memberikan sejarah baru bagi masyarakat dunia khususnya umat muslim untuk melaksanakan ibadah puasa tidak seperti biasanya. Bebagai kegiatan ibadah yang seharusnya dilaksanakan berjamaah untuk sementara waktu ditiadakan demi memutus mata rantai Covid 19. Di indonesia sama halnya negara-negara lain yang tengah berjuang menghadapi pandemi tersebut juga mengalami situasi berbeda dalam melaksanakan ibadah puasa. Pemerintah menghimbau kepada masyarakat untuk melaksanakan ibadah di rumah saja. Budaya-budaya bulan Ramadhan yang sering dilaksankan muslim indonesia ditiadakan, bahkan pemerintah akan menindak tegas jika ada masyarakat yang melanggar aturan pemerintah. Semoga amal ibadah kita di Ramadhan tahun ini tidak berkurang walaupun kita dirumah saja.

Masa Pandemi ini membuat Pesma Buya Hamka sebagai Unit pembinaan kader persyarikatan, bangsa dan agama yang di miliki UHAMKA mengalami kendala dalam setiap tugas dan tanggungjawabnya akibat dari diberlakukannya peraturan pemerintah untuk meliburkan setiap lembaga pendidikan. Akan tetapi Pesma Buya Hamka tidak kehilangan akal untuk menjalankan tugas dan tangungjawabnya dalam membina kader (santri), sama halnya dengan berbagai kalangan Pesma Buya Hamka memanfaatkan kemajuan teknologi dalam menjalankan program-programnya. Dengan kemajuan teknologi tersebut dapat membantu dalam menjalankan sebagian program Pesma Buya Hamka.

Untuk meningkatkan wawasan santri, program pengajian Ramadhan diluncurkan Pesma Buya Hamka via daring melalui aplikasi zoom meeting. Pertemuan perdana pengajian tersebut dilaksanakan Sabtu, 09 Maret 2020 dengan mengusung tema “ Seni Berpuasa di Negeri orang” yang diisi oleh H. Amirudin, S.Pd.I.,M.Pd. mahasiswa program doktor Universiti Utara Malaysia (UUM).

Dalam pengajian tersebut narasumber tidak bercerita banyak bagaimana berpuasa di negeri orang khususnya Malaysia tempat narasumber studi, karena memang situasinya pemberlakuan lock down yang tidak mendukung. Masa pandemi Covid 19 tidak memberikan narasumber peluang untuk mengamati bagaimana masyarakat setempat melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Narasumber lebih jauh membahas tentang semangat meningkatkan kapasitas diri sebagai kader persyarikatan, bangsa dan agama. Narasumber mengajak Santri untuk tidak puas diri hanya menyelesaikan studi S1, santri harus melanjutkan studi ke jenjang berikutnya. Perkembangan jaman memang menuntut kita untuk meningkatkan kapasitas diri supaya tidak mudah tergerus zaman.

Peningkatan kapasitas diri bagi generasi muda di era global ini sangat penting. Bagi mereka yang memiliki kapasitas diri, akan mampu bersaing dan bertahan untuk berkiprah dimasyarakat luas maupun dipersyarikatan. Untuk itu narasumber semangat memberikan energi positif kepada santri untuk senantiasa meningkatkan kapasitas diri dan mengajak untuk meningkatkan kapasitas tersebut dengan studi lanjut setelah menyelesaikan studi S1 nya.

Amirudin mengajak santri yang telah selesai S1 untuk studi lanjut dimanapun, tetapi ia juga menganjurkan kepada santri untuk bisa melanjutkan studi ke luar negeri. Ia memberikan alasan mengapa perlu studi di luar negeri, agar merasakan atmosfir pendidikan yang berbeda selain iklim pendidikan di tanah air. Dengan demikian akan memiliki pengalaman berbeda karena bisa berkolaborasi dan bertukar pengalaman dengan pelajar antara bangsa lainnya disana. Selain itu, harus kita akui bahwa menurut laporan PISA (Program Internasional Student Assesment) beberapa tahun terakhir haingga tahun  2019, peringkat pendidikan negara kita secara global masih perlu pembenahan untuk mengungguli pendidikan negara-negara tetangga kita seperti Malaysia dan Singapora termasuk Brunei Darussalam. Oleh karena itu, sebagai generasi muda bangsa dan kader persyarikatan Muhammadiyah, santri dan alumni Pesma Buya HAMKA perlu memacu diri untuk menuntut ilmu pada beberbagai pusat keunggulan pendidikan (baik di dalam maupun di luar negeri), sebagai modal untuk kembali membangun pusat keunggulan di tanah air termasuk di persyarikatan Muhammadiyah.

Kesimpulan yang dapat diambil dari pemaparan narasumber adalah sebagai manusia yang beriman jangan berpuas diri dengan ilmu yang telah didapat sekarang tetapi tingkatkanlah kapasitas diri kita dengan berbagai cara salah satunya melanjutkan jenjang pendidikan di dalam negeri maupun di luar negeri. Sebagai kader persyarikatan jika ingin tetap bertahan dalam persaingan maka sangat pelu meningkatkan kapasitas diri, selain itu kader akan dihadapkan dengan tantangan dakwah kedepan yang semakin berat. (16/5)

Leave a Reply