KEUTAMAAN PUASA

Oleh: Putri Kusumawati

Santri Dormitory Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka merealisasikan pernyataan produktif di masa pandemi ini. Sebuah gagasan yang diusung dan dikaji menjadi tema di dalam kegiatan Pengajian Ramadhan Fakultas Kedokteran pertemuan pertama yaitu “Puasa : Tinjauan Teologis dan Historis” pada hari Minggu (15/05/20) pukul 16.30-17.40 WIB. Pengajian ini dimaksimalkan via daring melalui aplikasi zoom meeting dan kajian tersebut diisi oleh Wakil Dekan 4 FKIP UHAMKA, Dr. Izza Rohman Nahrowi, M.A. Harapan besar kajian ini menjadi kegiatan rutin yang dilakukan oleh santri di masa pandemi atau pasca pandemi nanti.

Setelah menyimak kajian yang disampaikan sangat menggugah pemahaman santri dalam memahami arti puasa dalam tinjauan teologis, serta historisnya terutama keutamaan puasa yang kita rasakan saat ini di masa pandemi. Banyak hal yang menjadi kebiasaan dalam bulan suci Ramadan yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya terutama dalam pelaksanaan ibadah. Tetapi, hal itu tidak menjadi alasan kita untuk tetap berlomba-lomba dalam hal kebaikan. Dan tetap percaya atas keberkahan di bulan suci Ramadan.

Dalam kajiannya disampaikan terdapat sebuah hadist qudsi bahwa ibadah yang dilakukan saat bulan suci Ramadan pahalanya dilipat gandakan sepuluh kali lipat. Ada ibadah-ibadah yang dapat dibalas kecuali ibadah puasa tidak sama dengan ibadah yang lain. Menurut hadist ini ibadah puasa yang tidak disebutkan berapa pahalanya. Bahwa ibadah puasa yang tertujunya kepada allah maka, allah akan membalasnya secara langsung. Maka dari itu, cukup ibadah kita untuk allah, puasa kita untuk allah, shodaqoh kita untuk allah, dan puasa kita untuk allah. Ibadah-ibadah yang kita lakukan harus ikhlas dengan lillahita’ala.

Jika diilustrasikan secara sederhana orang yang melaksanakan sholat sudah terlihat bahwa seseorang itu sedang melaksanakan gerakan-gerakan tertentu, yang orang lain tau bahwa itu adalah gerakan sholat. Begitupun infaq atau shodaqoh dicatat dan diterima oleh yang menerimanya ataupun disaksikan. Adapun hari- hari yang melarang untuk berpuasa yaitu hari idul fitri, hari idul adha, dan hari tasyrik selebihnya boleh melaksanakan puasa itu secara teologi. Puasa sebagai amalan yang tidak nampak, dan sebagai orang yang mendekatkan diri sedekat-dekatnya dengan Allah Swt.

Di masa pandemi seperti saat ini jika, kita kaitkan puasa dengan realitasnya pada hari ini, salah satunya mengenai tenaga medis yang melaksanakan ibadah puasa. Ada fatwa bagi petugas medis dilapangan, bahwa diperbolehkan tenaga medis untuk tidak berpuasa selama menjalankan tugasnya, untuk menjaga imunitas mereka, menjaga kesehatan, menjaga keselamatan untuk dirinya dan orang-orang disekitar mereka dengan tidak berpuasa dan silakan mengganti puasa dihari-hari lain.

Beberapa hal yang dapat disimpulkan dari yang disampaikan oleh WADEK 4 FKIP UHAMKA dengan mempercayai bahwa puasa sebagai hal yang utama dalam syariat islam karena puasa bagian dari rukun iman. Tegaknya islam sesuai dengan bagaimana kita menjalankan syariat puasa.

 

 

 

Leave a Reply