Aktualiasasi Spirit Al-Maun Di Tengah Pandemi

Oleh: Putri Kusumawati

Menafsir pergerakan muhammadiyah dari zaman ke zaman juga melihat tantangan yang dihadapinya. Muhammadiyah mengenal teologi al maun sebagai teologi amal, dalam bahasa sekarang praksis. Amal itu perbuatan yang tidak semata-mata perbuatan teknis dan praksis. Tetapi ada maindsetnya, sehingga disebut sebagai amal sholeh atau amal usaha. Yaitu perbuatan yang bersifat praktis dan punya nilai guna serta bisa dilihat hasilnya.

Santri Dormitory Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka merealisasikan pernyataan produktif di masa pandemi ini. Sebuah gagasan yang diusung dan dikaji menjadi tema di dalam kegiatan Pengajian Ramadhan Fakultas Kedokteran pertemuan ketiga yaitu “Teologi Al-Maun Di Tengah Pandemi COVID-19” pada hari Minggu (17/05/20) pukul 16.30-17.40 WIB. Pengajian ini dimaksimalkan via daring melalui aplikasi zoom meeting dan kajian tersebut diisi oleh Wakil Rektor 4 UHAMKA, Dr. Bunyamin, M. Pd. Harapan besar kajian ini menjadi kegiatan rutin yang dilakukan oleh santri di masa pandemi atau pasca pandemi nanti.

Setelah menyimak kajian yang disampaikan oleh WAREK 4 UHAMKA sangat menggugah pemahaman santri mengenai pengaplikasian teologi al-maun di tengah pandemi COVID-19 yang saat ini menjadi bencana nonalam yang perlu penanganan cepat dan serius. Melihat hal ini hanya satu yang menjadi siasat kita dalam menjalani kehidupan di masa pandemi seperti sekarang ini yaitu selalu mensyukuri nikmat allah sebagai modal kebaikan dan mempercayai bahwa ini merupakan tanda kebesaran allah. Dalam hal ini islam mampu hadir di tengah-tengah masyarakat dan muhammadiyah memiliki Amal Usaha yang dibagi ke dalam 3 bidang yaitu, pendidikan, kesehatan, dan sosial.

Gerakan untuk membebaskan umat dari keterbelakangan, kebodohan, dan ketidakberdayaan. Karena itu, muhammadiyah sejak lama telah melakukan pembangunan dalam bidang pendidikan, kesehatan, mengentaskan kemiskinan, dan menjadikan umat lebih berdaya. Kiai Dahlan saat mengajarkan al-maun kepada murid-muridnya, beliau menekankan hafal surat saja belum cukup, sehingga Kiai Dahlan mendorong muridnya untuk mengamalkannya.

Dalam kajiannya WAREK 4 UHAMKA menyampaikan beberapa poin yang dapat dijelaskan mengenai surat al-maun, pertama perbuatan yang dapat digolongkan sebagai pendusta agama yaitu orang yang menghardik anak yatim, di awal terdapat hazbabul nuzul mengenai anak yatim. Maksud dari menghardik anak yatim yaitu menolak dengan keras untuk menyantuni , tidak menyayangi , tidak memberikan hak-haknya. Kedua, mengenai ibadah sholat disampaikannya bahwa sholat merupakan sarana komunikasi kepada Allah Swt tetapi pada realitasnya tidak sedikit anak-anak bahkan orang tua menganggap sholat sebagai beban.

Selanjutnya, prinsip welas asih berkaitan erat dengan keimanan. Melihat 3 bidang yang disampaikan diawal jika difokuskan adanya korelasi antara pendidikan dengan al-maun. Banyak pengaplikasian yang dapat dilakukan salah satu contoh kecilnya ialah melalui pendidikan yang dimiliki oleh seseorang memberikan penyuluhan di masyarakat, hal itu merupakan bagian dari sedekah ilmu.

Terakhir, terdapat beberapa hal yang dapat disimpulkan dari yang disampaikan oleh Wakil Rektor 4 UHAMKA, saat ini kita dihadapkan pada keadaan yang serba terbatas, dibalik itu semua kita harus terus memberikan pengaruh positif kepada diri sendiri maupun orang lain. Dan terus melakukan kebermanfaatan untuk orang banyak.

Leave a Reply