• humas@uhamka.ac.id
  • +62217394451
News Photo

Webinar Sekolah Ramah HAM: Konsep,Indikator dan Penerapannya Dalam Mewujudkan Pendidikan yang Adil dan Beradab.

Jakarta, 25 Agustus 2020 Pusat Studi Pendidikan dan Hak Asasi Manusia (PUSDIKHAM) Universitas Mumahmmadiyah Prof. Dr. Hamkamengadakan Webinar dengan tema Sekolah Ramah HAM: Konsep,Indikator dan Penerapannya Dalam Mewujudkan Pendidikan yang Adil dan Beradabdilakukan secara daring melalui aplikasi Zoom Metting, Pada tanggal 22Agustus2020.Mengundang tiga narasumber diantaranya Kasmadi, S.Pd selaku Tenaga Pendidik SMAN 74 Jakarta, Dr. Desvian Bandarsyah, Mpdselaku Dekan FKIP UHAMKA dan Arist Merdeka Sirait selaku Komnas Perlindungan Anak. Serta pengukuhan relawan Pusdikham dan pengantar oleh Dr. H. Bunyamin, M.Pd selaku Wakil Rektor IV UHAMKA dan dimoderatori oleh M.Azhar NawawiSelaku Perwakilan Pusdikham Uhamka. Webinar bertajuk “Sekolah Ramah HAM: Konsep,Indikator dan Penerapannya Dalam Mewujudkan Pendidikan yang Adil dan Beradab”. Dibuka oleh Wakil rektor IV UHAMKA Dr. H. Bunyamin, M.Pd “Pendidikan merupakan Investasi masa depan, Sehingga pendidikan mampu membangun kemajuan diwaktu yang akan datang. Pendidikan Ramah HAM menjadi faktor penting bagi menciptakan manusia progesif yang bermanfaat dimasyarakat. Selain itu atas pengukuhan relawan Pusdikham diharpakan mampu melakukan kampanye Pendidikan Ramah HAM terhadap sekolah-sekolah atau masyarakat sekitar. Dalam realitas masyarakat belum sepenuhnya merasakan Pendidikan hal itu dipengaruhi oleh sektor Ekonomi dan Budaya sekitar maka menjadi tanggung jawab kita bersama untuk melakukan kampanye pentingnya pendidikan bagi kehidupan masyarakat Indonesia.” Ucap Dr. H. Bunyamin, M.Pd Selaku Wakil rektor IV UHAMKA, Selasa (25/08). Diawal Webinar, M. Azhar Nawawi selaku moderator membuka Pembahasan bahwa Pendidikan merupakan Investasi terbesar dimasa depan maka dari itu pemerataan bagi setiap masyarakat untuk mendapatkan haknya didalam pendidikan perlu diperhatikan secara serius oleh pemerintah. Bukan hanya pemerintah yang memiliki tanggung jawab atas hak pemenuhan pendidikan bagi masyarakat akan tetapi seluruh lapisan masyarakat masyarakat harus mendukung pemenuhan hak pendidikan. Pendidikan meruapakan cara solutif untuk membangun peradaban yang kemajuan dimasa depan. Kasmadi, S.Pd menjabarkan mengenai Pendidikan nasional berbasis HAM yang ditopang dengan sistem pembelajaran serta fasilitas sekolah, Selain itu harus terpenuhi peningkatan kualitas tenaga pendidik sebagai ujung tombak pendidikan dalam melakukan implementasi. “Pendidikan nasional berbasis HAM sudah mulai terlaksana jika diJakarta, Melihat Pergub nomor 86 tentang penanggulangan tindak kekerasan bagi peserta didik. Menjadi tanda bahwa diJakarta sudah terlaksana pendidikan nasional berbasis HAM akan tetapi jika melihat secara menyeluruh diperlukan tiga pondasi utama yaitu pendidikan karakter,optimalisasi pelayanan dan profesionalitas pendidik. Selain itu pemenuhan kualitas tenaga pendidik sangat diperlukan sebagai penentu dari keberhasilan sistem pendidikan dinegara kita.” Tutur Kasmadi, S.Pd Selasa (25/08) Dr. Desvian Bandarsyah, Mpd selaku Dekan FKIP UHAMKA menjelaskan tentang Pendidikan HAM berbasis keanekaragaman dengan tujuan membangun bangsa dimasa depan dengan iklim masyarakat memiliki pluralitas didalam kehidupan sehingga menciptakan kehidupan bermasyarakat yang harmonis ditengah perbedaan. “Pendidikan HAM berbasis keaneragaman menjadi tujuan bangsa dimasa depan demi mencapai syarat utama pendidikan dengan nafas kebebasan dan menghargai kebebasan serta dilandaskan oleh nilai HAM. Selain itu pendidikan ditengah dunia global harus menciptakan pendidikan yahg mencerahkan,antisipatif dan memuat nilai HAM sebagai akses utama kesadaran HAM yang sangat solutif. UjarDr. Desvian Bandarsyah, M.PdSelasa (25/08)   Arist Merdeka Sirait selaku Komnas Perlindungan Anak menyampaikan materi mengenai Perlindungan Hak anak yang harus terpenuhi dan tidak boleh terganggu, Selain itu mengkritisi tentang percobaan sistem pembelajaran tatap muka ditengah Pandemi Covid-19 yang dianggap mencederai hak kesehatan bagi anak, selain itu mengkampanyekan mengenai lingkungan sekolah ramah anak. “Perlindungan mengenai 10 anak seperti bermain,pendidikan ramah anak,perlindungan dari perundungan,hak atas nama,makanan,kebangsaan,kesehatan,rekreasi,kesamaan dan peran pembangungan. Menjadi sangat penting bagi anak untuk mendapat haknya, Selain itu sistem pembelajaran yang dipaksakan secara tatap muka ditengah Pandemi Covid-19 melanggar hak anak dalam kesehatan bahkan terkesan menjadikan anak sebagai kelinci percobaan yang sangat berbahaya. Pada akhirnya yang dibutuhkan oleh masyarakat merupakan lingkungan sekolah yang ramah anak harus dijunjung tinggi secara bersama dan tanggung jawab.” Arist Merdeka Sirait, Selasa (25/08) Pembahasan selama Webinar melahirkan kesimpulan secara garis besar bahwa permasalahan dalam dunia Pendidikan menjadi masalah bersama serta harus dilakukan perubahan secara cepat, Pendidikan merupakan investasi masa depan yang sangat menjadi penentu maka dari itu harus dilandaskan dengan nilai HAM demi menciptakan kualitas pendidikan yang ideal serta mampu menghasilkan insan bermanfaat bagi kemajuan peradaban. (Kindo/Rus)

Bagikan Berita Ini

Komentar