• humas@uhamka.ac.id
  • +62217394451
News Photo

Tafsir Kebenaran dan Krisis Identitas di Era Milenial

  • Riset
  • August 21 14:44:25, 2020

Label “kebenaran” sering menjadi incaran setiap individu dan kelompok manusia. Dalam sejarahnya manusia berani melakukan apapun jika sudah mendapatkan legitimasi dari sebuah kebenaran. Sampai saat ini kebenaran selalu memiliki versinya masing-masing, bergantung pada lingkungan, keluasan ilmu dan pengalaman masing-masing orang. Tapi yang jelas, bahwa Kebenaran adalah barang mewah, karena hanya dapat diperoleh oleh orang-orang yang mau memfungsikan nalar berpikir kritis dengan sebenar-benarnya. Untuk memahami lebih jauh tentang kebenaran ini, Dormitory UHAMKA mengadakan kajian Rutin secara online, yang pada pertemuan ke-6 ini mengangkat tema “Tafsir Kebenaran dan Krisis Identitas di Era Millenial”. Materi ini disampaikan oleh Dr. Desvian Bandarsyah, Sejarawan UHAMKA yang juga merupakan Dekan FKIP UHAMKA. Dr. Desvian memulai Kajian dengan memberikan realitas sejarah bagaimana manusia dalam kehidupannya senantiasa disibukkan oleh berbagai pertanyaan mendasar tentang dirinya, pelbagai jawaban spekulatif yang coba diajukan oleh manusia itu terkadang melahirkan jawaban-jawaban yang saling berbenturan. Beliau melanjutkan, bahwa perdebatan mendasar yang sering menjadi bahan diskusi dalam sejarah kehidupan manusia adalah seputar sumber dan asal usul pengetahuan dan kebenaran. “Penganut pragmatis utamanya, John Dewey tidak membedakan antara pengetahuan dan kebenaran (Knowledge dan Truth)” Kutipnya. Namun, kebenaran sebagai rumusan objektif yang disepakati oleh manusia berdasarkan nalar subjektifitasnya mengalami proses transformasi dalam relasi antar-pribadi yang melampaui batas-batas objektifnya. Maka kemudian kebenaran bersifat relatif, sesuatu yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Faktanya adalah kebenaran sudah dintervensi manusia dengan sedemikian massif. Kebenaran dan Post Truth Era Post Truth atau era pasca kebenaran adalah era dimana pendapat masyarakat tidak lagi dibentuk oleh fakta dan rasio melainkan oleh sentiment dan kepercayaan. Akibat dari kemajuan tekhnologi informasi orang bebas dan mudah menyebarkan informasi dan berkata-kata dalam dunia medsos. Era ini meruntuhkan standar kebenaran yang ada. Hasilnya adalah, orang bisa ceramah agama hanya dengan modal kopas status orang lain. Orang bisa bicara politik karena mengutip tulisan singkat orang lain di artikel yang bertebaran di internet. Dan orang juga bebas bicara tentang apapun karena semua tinggal copy Paste. Dr. Desvian mengamini perkataan Hans George Gadamer dalam Truth and Method, “bahwa kebanyakan manusia tidak pernah berjumpa dengan kebenaran. Jika hidupnya baik, jangan berbangga dulu, karena jangan-jangan kebenaran yang sesungguhnya menemukan dirinya”. Perubahan dan perkembangan dunia yang sangat cepat, melahirkan banyak korban kemanusiaan. Sementara kehidupan telah memberi banyak kepada kita, namun kita sering gagal memahaminya, apalagi mensyukurinya. Kita juga sering berlindung di balik berbagai argument untuk berapologia ketika mengalami kegagalan dalam memahami kehidupan, padahal kegagalan itu semata-mata kerana ketidakcakapan dalam memaknai kebenaran kita. tambahnya. Krisis Identitas di Era Milenial Pada pembahasan sub tema selanjutnya tentang Krisis Identitas di Era Milenial, beliau menyinggung tentang beberapa “aktor” kehidupan modern yang telah membuat kehidupan di era milenial semakin mengarah pada kebangkrutan. Mereka melumpuhkan nalar dan etika kemanusiaan. Manusia mengalami belenggu dan kejumudan etika serta kelumpuhan nalar sosialnya yang disebabkan pola kehidupan pragmatis yang ditopang oleh perkembangan tekhnologi informasi dalam kurun 2 dasawarsa terkahir. Jelasnya. Tekhnologi modern (Produk Kebudayaan) telah menguasai manusia. Produk yang tampaknya “netral” Ketika diciptakan tetapi kemudian ia menjelma menjadi “alat bantu efektif” untuk menindas manusia. Seperti yang diyakini oleh Herbert Marcuse bahwa tekhnologi tidaklah netral. Ia sebenarnya memperbudak dan menindas manusia. Aktor dibaliknya adalah “invisble Hand” yang bekerja siang dan malam dalam membangun kerajaan bisnis dan politik kebudayaan. Mengemas dan memasarkannya melalui media sosial. Dalam merespon fenomena tersebut, Pemateri memberikan solusi agar kita perlu mengenali dan memahami fenomena itu sebagai lawan-lawan digital. Perlu kemahiran baru dalam merespon lawan semacam itu. Jangan bergelut dalam “kubangan” yang sama dan berlama-lama di sana, karena hal itu tidak lain hanya membuat kita semakin tertinggal dan mengalami krisis identitas sebagai manusia. Krisis identitas disebabkan karena ketidakmampuan mengembangkan nalar kreatifnya dalam mengunyah informasi yang diterima. Juga mudah terpukau dengan fenomena yang Nampak, padahal sejatinya sering mengecoh. Di akhir pemaparannya, Dr. Desvian mengingatkan bahwa yang tidak kalah penting adalah Agama harus menjadi instrument penting untuk mengantarkan manusia yang rahmatan lilaalamiin. Islam kita harus berbasis pada pemahaman dan kesadaran, agar umat islam tidak seperti buih di lautan. Era ini membutuhkan pengembangan nalar yang kreatif, untuk memahami situasi-situasi saat ini, dan bahannya adalah ilmu pengetahuan. Jika kita gagal megembangkan nalar kreatif individu manusia tersebut maka bisa dipastikan kita akan semakin tertinggal.

Bagikan Berita Ini

Komentar