• humas@uhamka.ac.id
  • +62217394451
News Photo

Dunia Pendidikan Ditengah Pandemi Informasi

  • Opini
  • November 24, 2020

Istilah “pandemi” makin hari makin akrab di telinga seiring dengan makin merebaknya virus corona atau yang lazim dikenal dengan COVID-19. Berbagai kalangan, mulai dari pemulung, pedagang keliling, pedagang kaki lima, pengemis, anak-anak sekolah, ibu-ibu rumah tangga, hingga para ekskutif dan pejabat, semua fasih melafalkan pandemi COVID-19. Di berbagai media sosial, baik WA Group, Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain, hampir semua membicarakan tentang pandemi COVID-19.

 

Sebagian pihak barangkali paham tentang apa itu pandemi, terlebih para tenaga kesehatan dan orang-orang yang terkait kesehatan. Namun tidak menutup kemungkinan, masih banyak kalangan masyarakat yang belum paham tentang apa itu pandemi. Bagi mereka, pokoknya sekarang ini sedang ada pandemi COVID-19 yang menuntut mereka untuk terus pakai masker, cuci tangan, jaga jarak, dan hindari keramaian.

 

Jika kita mencermati istilah “Pandemi”, pada dasarnya sekarang ini tidak hanya berkembang pandemi COVID-19. Ada pandemi lain yang tidak kalah dahsyatnya, yaitu informasi atau berita-berita. 

 

Seperti diketahui, seiring dengan perkembangan teknologi informasi, berita-berita kini dapat diakses dengan cepat melintasi batas-batas negara. Apa yang terjadi di belahan bumi selatan, dapat secara lansung diikuti oleh belahan bumi utara; begitu pula sebaliknya. Berbagai media dapat dipilih oleh masyarakat sesuai keterjangkauan mereka, mulai dari televisi, media online, telephone, vidio, dan lain-lain. Yang jelas, berbagai berita kini dapat dengan cepat diakses.

 

Ruang dan waktu kini tidak lagi menjadi hambatan untuk memperoleh informasi yang diperlukan.Internet melayani 24 jam dengan dukungan aplikasi yang semakin canggih. Layanan telephone juga tidak lagi terbatasi waktu, sehingga kapanpun bisa melakukan komunikasi dengan sesama.Meeting pun kini tidak lagi terbatasi ruang dan waktu. Jam 12 malam jika diperlukan juga dapat dilakukan meeting online, cukup dengan aplikasi zoom atau googlemeet atau aplikasi lain sesuai selera.

 

Jadi sekarang kita tengah hidup ditengah gelombang informasi yang dahsyat. Dapat dikatakan setiap detik, barangkali jutaan bit informasi melintas di media-media online dengan berbagai ragam isi dan model, mulai dari sekedar berita selebritis, kriminal, kuliner, bisnis, bahkan ceremony dari para pejabat maupun ekskutif, dan seterusnya; mulai dari sekedar komentar, sanjungan, bahkan cacian. Ibarat makanan, sajian menu berita  sangat melimpah setiap kita membuka media-media online hari ini.

 

Melimpahnya berita tersebut tentu berebut “ruang” atau berebut pembaca. Setiap pembaca memiliki kecenderungan yang beragam terkait dengan sajian menu informasi. Ada yang suka dengan cerita selebiriti, ada yang suka mencari tutorial tentang suatu ketrampilan, ada yang suka berita politik istana, ada yang suka dengan menyimak perkembangan bisnis, dan lain sebagainya. Setiap sajian berita atau informasi  “berebut” ruang pembaca, begitu pula media-media pengunggahnya.

 

Ditengah perebutan tersebut, mesti ada informasi  yang memikat hati banyak pembaca. Pada beberapa hari kemarin, berita tentang penyebaran dan dampak COVID-19 banyak menyita perhatian. Ditambah dengan respon pemerintah maupun pemerintah daerah dalam merespon adanyaCOVID-19 tersebut, maka informasi tentang covid-19 pun menjadi perbincangan yang viral dimana-mana.  Tidak hanya merespon begitu saja, masyarakat pun juga merespon dengan beradaptasi atas adanya COVID-19 tersebut.

 

Sekarang ini, berita atau informasi tentang Omnibus Law Cipta Kerja tengah menjadi viral di tengah masyarakat. Berbagai ulasan dan juga analisis disajikan. Perebutan ruang pembaca pun terjadi antara pro dan kontra atas ulasan Ombinus Law tersebut. Tidak butuh waktu lama, gelombang penolakan melalui aksi demosntrasi pun meletus dimana-mana. Demikianlah efek dari penyebaran informasi.

 

Dengan mencermati efek informasi tersebut, maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa setiap informasi  berpotensi menjadi “pandemi”, dalam arti bahwa informasi itu menyebar dengan jangkauan yang luas dan masyarakat memiliki penerimaan dan atau persepsi yang sama atas informasi tersebut. Dan atas penerimaan yang sama tersebut, masyarakat bergerak. Pandemi informasi adalah ketika informasi tersebut menguasai persepsi masyarakat dalam jangkauan lebih luas.

 

Demikianlah “pandemi” informasi bergerak. Tentu saja, dalam konteks informasi ini, dampak “pandemi”  bisa juga berbeda dengan “pandemi” a laCOVID-19. “Pandemi informasi” bisa memiliki dua kemungkinan, memberikan dampak perbaikan bagi seseorang atau masyarakat; bisa juga dampak buruk.

 

“Manajemen Pandemi”dalan Dunia Pendidikan

 

Dari uraian diatas, dapat dikatakan bahwa menguasai informasi ibarat “ratu dunia”. Media massa dapat dengan mudah membentuk persepsi masyarakat melalui berita-berita atau informasi yang diberikan. Dan ketika pengaruh media massa makin meluas, maka informasi media tersebut sejalan dengan apa yang terkadung dalam pengertian “pandemi”, tepatnya pandemi informasi.

 

Dunia pendidikan pada dasarnya dapat mengambil spirit pandemi tersebut untuk membentuk watak dan karakter pada anak didik. Pendidikan dapat membentuk pengaruh kepada anak didik secara lebih luas melalui “manajemen pandemi.”

 

Hal itu bisa dilakukan jika dunia pendidikan mulai berpikir tentang pengelolaan informasi pendidikan, mulai dari media tampilan, bahasa yang relevan, jaringan, juga kemudahan akses, dan hal-hal lain yang terkait. Manajemen informasi pendidikan menjadi hal yang sangat urgen dipikirkan ditengah “pertarungan” informasi yang dihadapi anak didik seperti sekarang ini. Terlebih di tengah semakin menyempitnya lahan bermain bagi anak-anak dan semakin pudarnya kontrol sosial, maka sudah bisa dibayangkan anak-anak akan menghabiskan waktunya di depan berbagai pilihan media yang tersedia, baik televisi, komputer, maupun gadget.

 

Barangkali masih ingat Survei  Asosiasi  Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2017, sebanyak 143,26 juta orang atau 54,68 persen dari populasi Indonesia menggunakan internet Penetrasi pengguna internet terbesar di usia 13-18  tahun  (75,50  persen).  Gawai  adalah perangkat  yang  paling  banyak  dipakai untuk mengakses internet (44,16 persen). Kementerian Komunikasi dan Informatika juga mengungkapkan, sebanyak 93,52 persen penggunaan media sosial  oleh  individu  Indonesia berada  di  usia  9-19  tahun  dan  penggunaan  internet  oleh individu sebanyak 65,34 persen berusia 9-19 tahun. Umumnya anak-anak menggunakan internet untuk mengakses media sosial, termasuk Youtube dan game daring.

 

Berdasarkan  Kajian  Penggunaan  Media  Sosial  oleh  Anak  dan  Remaja yang  diterbitkan Pusat Kajian Komunikasi (Puskakom), Universitas Indonesia 2017, anak-anak dan remaja tertarik  mengakses  media  sosial karena  mempertemukan  kembali  diri  mereka  dengan teman-teman  dan keluarga  yang  terpisah  jarak,  untuk  berbagi  pesan.  Adapun  mereka mengakses game daring untuk memenuhi hasrat mereka dalam bermain di dunia maya.

 

Yayasan Kesejahteraan Indonesia misalnya, mencatat bahwa rata-rata anak usia Sekolah Dasar menonton televisi antara 30 sampai 35 jam setiap minggu. Artinya, pada hari-hari biasa, mereka menonton tayangan televisi lebih dari 4 hingga 5 jam dalam sehari. Sementara itu di hari Minggu bisa mencapai 7 hingga 8 jam. Jika rata-rata menonton televisi 4 jam dalam sehari, berarti setahun sekitar 1.400 jam atau 1.800 jam, sampai seorang anak lulus SLTA. Padahal waktu yang dilewatkan anak-anak untuk sekolah mulai dari TK sampai SLTA hanya 13.000 jam. Hal ini berarti anak-anak meluangkan lebih banyak waktu untuk menonton televisi dari pada ntuk kegiatan apapun, kecuali tidur.

 

DailyMail mengungkapkan hasil sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 6.000 orang, termasuk 3.000 orang tua di Inggris, tentang dampak negatif televisi bagi anak. Satu dari enam orangtua berpendapat, terlalu banyak menghabiskan waktu di depan layar merupakan penyumbang utama terhadap masalah komunikasi. Di Inggris, masalah ini mengganggu perkembangan komunikasi pada sedikitnya satu juta anak (lihat juga Buchori, 1995: 119)

 

Hampir semua acara yang disajikan tidak mengajak masyarakat berpikir kritis dan rasional. Program televisi –sebagaimana yang dapat kita saksikan sekarang ini—sebagian besar menyajikan hal-hal instan, ingin cepat terkenal, atau cepat berhasil kaya tanpa melalui perjuangan. Tayangan televisi bisa menimbulkan ketergantungan bagi anak, memicu imajinasi dan mengabaikan pola berpikir realistis. Akibatnya, perkembangan mental dan cara berpikir anak menjadi terkontaminasi. Menonton adalah budaya malas karena hanya mengandalkan indera penglihatan dan pendengaran. Sebaliknya, bagi anak dibutuhkan budaya membaca dan berpikir kritis.

 

Di Inggris juga pernah ada studi terhadap anak sekolah dasar yang menarik untuk dicermati. Adalah firma Haier --sebuah lembaga berlokasi di Inggris-- melakukan studi tersebut. Studi ini bertujuan untuk mengetahui persepsi anak terhadap beberapa tokoh ilmuwan dunia yang sudah sangat dikenal selama ini, seperti Albert Einstein (fisikawan), Isac Newton dibandingkan dengan tokoh-tokoh kontemporer yang akrab dengan media cyber. Hasilnya sangat mencengangkan.  Sepertiga murid sekolah dasar yakin bahwa Albert Einstein adalah bintang reality show.  29 persen anak yang menjadi responden mengira bahwa ilmuwan yang terkenal dengan teori relativitas tersebut sebagai bintang seperti dalam pertunjukan The X Factor atau Britain's Got Talent.  

 

Lebih lanjut, studi juga menunjukkan bahwa sepertiga murid, berusia 11 hingga 14 tahun tidak tahu bahwa Isaac Newton menemukan teori gravitasi, meski soal itu ada dalam kurikulum.  Sementara 6 persen mengira, juri X Factor, Tulisa Contostavlos adalah pencipta penisilin, jutaan murid mengira penyanyi rap, Professor Green,  adalah seorang ilmuwan. Lebih jauh lagi, 35 persen anak berusia lima tahun mengira bahwa penemu teori gravitasi bukanlah Newton, namun Walikota London, Boris Johnson; dan  Wayne Rooney, pesepakbola Inggris adalah ilmuwan.  Bahkan Stephen Hawking, seorang fisikawan abad ini, pun dipersepsikan oleh 22 persen murid berusia 8 tahun sebagai seorang penata rambut. Sebaliknya, 68 persen murid bisa mengidentifikasi pembuat Facebook, Mark Zuckerberg. Namun, 22 persen lainnya menebak penemu bola lampu, Thomas Edison sebagai pencipta situs jejaring sosial itu. Survei itu juga menunjukkan bahwa rata-rata anak menghabiskan waktu 17 jam 34 menit di depan televisi.

 

Sebelumnya, sebuah survei juga dilakukan pada 2.000 anak sekolah di Inggris. Hasilnya, anak-anak tak tahu fakta-fakta sejarah atau sains. Otak mereka dijejali informasi soal selebritis dan hal remeh-temeh. Satu dari lima anak yang disurvey percaya bahwa tokoh kartun Toy Story, Buzz Lightyear, adalah manusia pertama yang menjejakkan kakinya ke Bulan, bukan astronot Neil Amstrong.

 

Penjelasan diatas menunjukkan bahwa keberadaan anak-anak sangat potensial diatur oleh keberadaan media. Media telah menjadikan anak-anak menirukan gaya seorang artis, tanpa tahu makna dan konteks gaya tersebut. Media juga menjadikan anak menirukan bahasa seorang aktor utama dalam suatu film, tanpa kedalaman makna akan bahasa tersebut. Pendeknya, anak-anak hidup berada di bawah bayang-bayang televisi ataupun media informasi lain. Dalam konteks anak-anak Indonesia, fenomena di atas sudah banyak ditemukan,terutama respon anak-anak terhadap game-game onlineyang update.

 

Uraian di atas menunjukkan bahwa dunia pendidikan sekarang ini harusadaptif dan melakukan terobosan untuk lebih optimal lagi menggunakan perkembangan teknologi informasi yang canggih, dengan tidak abai terhadap nilai-nilai keadaban. Dunia pendidikan tidak bisa lagi menjadi penikmat saja, pengguna, apalagi penonton, sehingga sibuk mempercantik dengan pembelajaran class room saja. Dunia pendidikan sudah dituntut untuk memasuki dinamika media informasi yang makin canggih. 

Bagikan Berita Ini

Komentar