Public Lecture Bersama Menteri Pendidikan Malaysia Dr. Maszlee bin Malik

Mengawali tahun 2019, UHAMKA semakin menunjukkan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi di berbagai aspek. Dalam bidang akademik dan kerjasama, berbagai kegiatan dan upaya memperluas kerjasama dilakukan. Sejalan dengan komitmen untuk mempersiapkan lulusannya memiliki daya saing global, internasionalisasi perguruan tinggi digalakkan, selain juga untuk meningkatkan reputasi internasional lembaga, mendorong penelitian kolaboratif dan memperkuat publikasi ilmiah. Sebagai bagian dari ikhtiar tersebut, pada tanggal 10 Januari 2019, UHAMKA menggelar sebuah kegiatan Public Lecture yang mengusung tema Sistem pendidikan tinggi di Malaysia dan Collaborative Meeting yang membahas berbagai peluang kerjasama Muhammadiyah dan Kementrian Pendidikan Malaysia.

Kuliah umum dan pertemuan ini digelar di FKIP UHAMKA dan dihadiri oleh Dr. Maszlee bin Malik, Menteri Pendidikan Malaysia, Prof Dr. Mohd Cairul Iqbal bin Mohd Amin, Wakil Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi , Zamshari bin Shaharan, Kuasa Usaha Ad Interim, Kedubes Malaysia, Prof Madya Dr. Mior Harris bin Mior Harun, Direktor Education Malaysia, Kedubes Malaysia, Bapak Saiful Islam bin Datuk Wan Zahidi, Staf Khusus Menteri, Bapak Ikhwan Nasir bin Abu Hanipah, Kepala Asisten Sekretaris Hubungan Internasional, Bapak Abdilbar bin Abdul Rashid, Sekretaris Pertama (Politik), Kedubes Malaysia, Bapak Mohd Mubarak bin Shamsuddin, Sekretaris Pertama (Pendidikan), Kedubes Malaysia, Menteri Pendidikan Republik Indonesia, dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Para Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Indonesia, para dosen di lingkungan FKIP UHAMKA, mahasiswa UHAMKA, mahasiswa Universiti Utara Malaysia (UUM) yang saat ini tengah mengikuti program Student Mobility di UHAMKA, serta 7 mahasiswa Filipina peserta program Sea-Teacher, porgram magang mengajar luar negeri yang diinisiasi oleh Asosiasi Kementrian Pendidikan negara-negara ASEAN.

Seluruh peserta dengan sangat antusias mengikuti rangkaian kegiatan Public Lecture yang dikemas dan dipersiapkan dengan sangat baik oleh FKIP UHAMKA sebagai panitia penyelenggara. Acara diawali dengan penampilan musikalisasi puisi oleh mahasiswa FKIP dengan membawakan beberapa puisi karya dosen Pendidkan Bahasa dan Sastra Indonesia UHAMKA. Pertunjukan tari Zapin Medley Betawi yang memberi nuansa budaya Indonesia dan Malaysia, kian menambah semarak suasana auditorium UHAMKA yang sudah dipenuhi oleh peserta  sejak sebelum acara dimulai.

Sebelum acara inti Public Lecture yang disampaikan oleh Maszlee bin Malik, lagu kebangsaan kedua negara dinyanyikan oleh UHAMKA Choir dan Mahasiswa UUM. Suasana kebersamaan sangat mewarnai kegiatan ini. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan oleh Prof. Gunawan Suryoputro selaku rektor UHAMKA dan Dr. Abdul Mukti mewakili Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dalam sambutannya, Prof. Gunawan mengungkapkan keseriusan UHAMKA untuk mengembangkan kerjasama dengan perguruan tinggi di Malaysia. Lebih jauh, rektor UHAMKA, yang juga pernah menjadi Pengurus Forum Rektor Indonesia ini mengungkapkan bahwa selama ini, UHAMKA telah menjalin kerjasama dengan beberapa Perguruan Tinggi di Malaysia seperti University Utara Malaysia (UUM), Universiti Kebangsaan malaysia dan Universiti Teknologi Petronas dalam bentuk collaborative research, international conference, dan Student Mobility Program.  Senada dengan apa yang disampaikan rektor UHAMKA, Dr. Abdul Mukti menyoroti pentingnya memperkuat kerjasama kedua negara. Selain karena memiliki akar budaya yang sama yang berbasis pada nilai-nilai islam, faktor geografis dan kesadaran pentingnya mempersiapkan generasi muda di kedua negara membangun masa depan ASEAN yang lebih baik.

Memulai orasinya, Dr. Maszlee bin Malik mengungkapkan bahwa K.H Ahmad Dahlan dan Buya HAMKA adalah tokoh Muhammadiyah yang sangat menginspirasinya. “Saya telah mendewasa dengan HAMKA”, tutur sosok politisi muda yang baru terjun di dunia politik sejak bulan Maret 2018. Keteladanan K.H Ahmad Dahlan dan Buya HAMKA dengan karya-karyanya telah menginspirasinya untuk terus mengedepankan akal dan berjuang memajukan bangsanya. Sedikit emosional, menteri yang memiliki gaya koimunikasi santai ini tampak sesekali mengusap air matanya, ketika mengenang perjuangan dalam orasinya. Perdana Menteri menunjuknya sebagai menteri Pendidikan Malaysia dengan harapan besar supaya pendidikan di sana bisa membangkitkan lagi nilai-nilai keislaman yang syarat dengan integritas, kerja keras, dan nilai-nilai luhur lainnya. Selain itu, pesan kuat mengenai urgensi penguasaan bahasa Inggris juga dia sampaikan.

Mengemban amanah sebagai Menteri Pendidikan Malaysia, Dr, Maszlee mengusung visi untuk menjadikan Perguruan tinggi sebagai University for Society, di mana kemajuan sebuah perguruan tinggi diukur dari kontribusinya memberi solusi terhadap persoalan-persoalan yang ada di Masyarakat. Dia juga bertekad untuk menjadikan Perguruan Tinggi di Malaysia sebagai rujukan global.

Orasi yang disampaikan Menteri pendidikan Malaysia mendapat sambutan sangat meriah dari seluruh peserta. Menutup orasinya, Dr. Maszlee memberikan motivasi dan menekankan lagi tentang pentingnya menjaga dan meningkatkan kerjasama UHAMKA dan Muhammadiyah dengan Malaysia.

Pada kesempatan sebelumnya, Menteri Pendidikan Malaysia  Dr. Maszlee bin Malik juga telah menyatakan dukungannya terhadap rencana Pendirian Universitas Muhammadiyah di Malaysia. Dalam kunjungan ke Malaysia pada tanggal 17 Juli 2018, delegasi Muhammadiyah yang diketuai oleh Prof. Dr Suyatno mendapat respon yang sangat positif dari Menteri Pendidikan Malaysia untuk menjalin kerjasama di bidang pendidikan. Kegiatan Public Lecture dan Collaborative Meeting yang dihadiri oleh tokoh tokoh penting pendidikan Malaysia dan Muhammdiyah tentu memainkan peran yang sangat strategis untuk semakin terwujudnya kerjasama yang semakin kuat dan menguatkan kedua pihak dalam upaya menyelenggaraan pendidikan Tinggi yang lebih baik, yang mampu menjawab tantangan perubahan dan persaingan global di berbagai sendi kehidupan.

REKTOR UHAMKA Prof . Gunawan Suryoputro “Tanggapan Siaran Pers Kementristekdikti”

[SIARAN PERS]

No:003/RILIS/UHAMKA/2019

Suatu yang paling penting dalam setiap orientasi pendidikan adalah strategis pengelolaan sumber daya manusia (human resources) adalah “the people who are ready, willing and able to contribute to organizational goals”(Werther dan Davis, 1996: 596).

Berdasarkan pendapat ini, dapat dinyatakan bahwa SDM adalah orang yang siap, mau dan mampu memberi sumbangan terhadap usaha pencapaian tujuan organisasi perguruaan tinggi yang dibidangi oleh Kemenristekdikti. Perencanaan sumber daya manusia memungkinkan para manajer dan departemen sumber daya manusia untuk mengembangkan rencana pengembangan SDM Perguruan Tinggi yang mampu mendukung strategi secara proaktif terutama dari segi kualifikasi keilmuan. Karena selama ini kualifikasi SDM yang bersifat linearilisasi justru mengalami sumbatan kreatifitas keilmuan atau tidak dinamik terutama dalam melahirkan keilmuan dalam pengajaran berskala keimuan diperhitungan. Kemultidispliner justru menjadikan SDM yang berilmu dan makin potensial dalam ranah pendidikan berstandar, baik secara nasional maupun internasional;

Oleh karena itu, sebaiknya pemerintah dalam hal ini kemenristedikti segera mengukuhkan kebijakan pendidikan yang bersifat multidispliner sehingga ke depan dapat menjadi masukan bagi kepentingan pengajaran, pengembangan teori dan metodelogi, serta pemecahan masalah-masalah teknologi keilmuan sosial budaya, baik berskala nasional maupun secara global. Di antara misalnya:

  1. Kajian bersifat multi displiner keilmuan; teknologi berintegrasi sosial, begitu pula pendidikan Politik, ekonomi, budaya dan kesenian, kesehatan, ekologi, dan lainnya diintegrasikan;
  2. Kesetaraan otonomi pengelolaan PT, baik negeri maupun swasta bukan saja hanya pada tata kelola bersifat birokrasi akedemis saja, namun dalam penyetaraan bantuan dana keuangan pun sama;
  3. Termasuk untuk menghemat biaya Negara, maka perlu pelayanan Dikti disederhanakan dengan cara pemangkasan birokratisasi.

Nantinnya, Kemenrsitekdikti mungkin tidak hanya mengurus soal pajak pendapatan dosen yang sekedar terasa menggembirakan namun kekinian bersifat politis !

 

 

Jakarta, 07 Januari 2019

[SIARAN PERS] No:002/RILIS/UHAMKA/2019

Jakarta, 03 Januari 2019

REKTOR UHAMKA

Prof . Gunawan Suryoputro

“Kuliah Magang Indonesia-Taiwan: Dilanjutkan atau dihentikan”

Menindak lanjuti informasi kerja paksa yang dilakukan oleh universitas tertentu yang disampaikan oleh legislator Kuomintang (KMT) Ko Chih-en dimana 300 siswa Indonesia dibawah usia 20 tahun dipaksa untuk kerja di perusahaan. Maka dari itu kami bersikap dan mendesak:

  1. Dengan adanya pernyataan langsung dari seorang Legislator di Taiwan tentu ini menjadi pernyataan serius dan pemerintah Indonesia tidak boleh membiarkan saja. Maka dari itu Mendesak Pemerintah Indonesia untuk mengindetifikasi langsung kepada pihak terkait untuk memastikan masalah sebenarnya terjadi
  2. Adanya program kuliah sambil bekerja yang di inisiasi oleh pihak ketiga (broker) sangat memprihatinkan, perjanjian yang dibuat tersebut harus di telusuri oleh Ombusdman. Kemungkinan ada potensi maladministrasi dalam perjanjian kerja sama yang memayungi pengiriman pelajar Indonesia ke Taiwan untuk mengikuti kuliah –magang.
  3. Mendesak pihak Taipei Economic and Trade Office Indonesia (TETO) yang juga berperan sebagai kantor perwakilan pemerintah Taiwan di Indonesia untuk tidak menyembunyikan informasi yang sebenarnya terkait adanya pelanggaran perjanjian yang dilakukan oleh universitas setempat dalam program  kuliah-magang atau (Industrial Academia Collaboration). Jika terjadi pelanggaran maka pihak TETO harus menerima sanksi sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia
  4. Untuk tidak mengulangi dan menelusuri kasus ini, maka mendesak pihak perwakilan Taiwan di Indonesia menghentikan program tersebut sampai ditemukan titik temu masalah ini.
  5. Menghimbau Sekolah terkait yang mengirimkan siswanya ke Taiwan untuk menghentikan kerjasama dengan pihak yang tidak bertanggung jawab

Rektor,

Ttd

Prof. Gunawan Suryoputro, M.Hum

Seminar Nasional “Sertifikasi Pustakawan From A to Z” dan RAKORPIMNAS 2018 di UHAMKA

Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiah (FPPTMA) menyelenggarakan Seminar Nasional Sertifikasi Pustakawan From A to Z dan disejalankan dengan Rapat Koordinasi Pimpinan Nasional (RAKORPIMNAS) Tahun 2018 pada Rabu, 05 Desember 2018 di Aula Fachrudin, Kampus E Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA. FPPTMA berkolaborasi dengan Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka ini didaulat menjadi tuan rumah.

Seminar yang dihadiri oleh sekitar 150 peserta dari berbagai profesi seperti Pustakawan, Dosen, Mahasiswa, dan Praktisi Informasi ini menghadirkan beberapa narasumber diantaranya Ketua FPPTMA Dr.  Lasa Harsana, M,Si,  Chief Librarian BINUS University Dr. Endang Ernawati, M.Lib, dan Perpustakaan Nasional Indra Astuti, S.S, M.P.

Kegiatan yang dibuka oleh Rektor UHAMKA Prof. Dr. H. Gunawan Suryoputro, M. Hum. menyampaikan pentingnya sertifikasi bagi Pustakawan khususnya di tingkat Universitas.

Kepala Perpustakawan UHAMKA Risna Kemala Dewi, S.S menyampaikan hal serupa. Menurutnya kenyataan yang dihadapi Pustakawan praktisi lebih berat karena harus berhadapan dengan stake holder di lingkungannya yang bias dikatakan masinh meragukan keprofesionalan Pustakawan. Dengan adanya sertifikasi Profesi, Pustakawan dapat menunjukkan eksistensi dan  kualitas kompetensi serta tidak  lagi dipandang sebelah mata.


Dugaan Kerja Paksa di Taiwan, Rektor UHAMKA : ”Berharap Pemerintah Indonesia Segera mengindetifikasi Kasus Tersebut ”

Saat ini terdapat sekitar 6.000 mahasiswa Indonesia di Taiwan, dengan sekitar 1.000 mahasiswa yang ikut dalam skema kuliah-magang di delapan universitas yang masuk ke Taiwan pada periode 2017-2018 dan sebanyak 300 mahasiswa asal Indonesia yang terdaftar di Universitas Hsing Wu melalui program mahasiswa magang diduga menjalani kerja paksa di sebuah pabrik di Taiwa. Kasus tersebut mencuat setelah anggota parlemen Taiwan dari Partai Kuomintang, Ko Chih-en memberikan pernyataan melalui China Times.

Ratusan pelajar RI tersebut masuk perguruan tinggi tersebut melalui pihak ketiga atau perantara. Menurut laporan China Times seperti dikutip surat kabar Taiwan News, mereka menempuh kelas internasional khusus di bawah Departemen Manajemen Informasi sejak pertengahan Oktober 2018.

Ko menuturkan dalam sepekan para mahasiswa itu dikabarkan hanya belajar di kelas selama dua hari. Setelah itu mereka bekerja empat hari di pabrik selama 10 jam,per hari, diberikan istirahat selama 2 jam dan  mendapat jatah satu hari untuk libur.

Terhadap kasus tersebut, Rektor UHAMKA Prof. Dr. Gunawan Suryoputro, M.Hum )  memberikan pernyataan resmi.  Melalui, berikut lima sikap dan pernyataan Rektor  .UHAMKA  :  

  1. Dengan adanya pernyataan langsung dari seorang Legislator di Taiwan tentu ini menjadi pernyataan serius dan pemerintah Indonesia tidak boleh membiarkan saja. Maka dari itu Mendesak Pemerintah Indonesia untuk mengindetifikasi langsung kepada pihak terkait untuk memastikan masalah sebenarnya terjadi
  2. Adanya program kuliah sambil bekerja yang di inisiasi oleh pihak ketiga (broker) sangat memprihatinkan, perjanjian yang dibuat tersebut harus di telusuri oleh Ombusdman. Kemungkinan ada potensi maladministrasi dalam perjanjian kerja sama yang memayungi pengiriman pelajar Indonesia ke Taiwan untuk mengikuti kuliah –magang.
  3. Mendesak pihak Taipei Economic and Trade Office Indonesia (TETO) yang juga berperan sebagai kantor perwakilan pemerintah Taiwan di Indonesia untuk tidak menyembunyikan informasi yang sebenarnya terkait adanya pelanggaran perjanjian yang dilakukan oleh universitas setempat dalam program kuliah-magang atau (Industrial Academia Collaboration). Jika terjadi pelanggaran maka pihak TETO harus menerima sanksi sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia
  4. Untuk tidak mengulangi dan menelusuri kasus ini, maka mendesak pihak perwakilan Taiwan di Indonesia menghentikan program tersebut sampai ditemukan titik temu masalah ini.
  5. Menghimbau Sekolah terkait yang mengirimkan siswanya ke Taiwan untuk menghentikan kerjasama dengan pihak yang tidak bertanggung jawab

Seminar Nasional Pusat Studi Gender Dan Perlindungan Anak ( PSGPA ) : UHAMKA Siap Menjadi Kampus Responsif Gender

Pusat Studi Gender Dan Perlindungan Anak ( PSGPA ) mengadakan Seminar Nasional dalam memperingati Semarak Hari Ibu 2018. Acara seminar ini diadakan di Auditorium Ahmad Dahlan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UHAMKA ( 27/12/18).

PSGPA FKIP bekerjasama dengan  Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak (KPPPA) dan Aisyiyah menyelenggarakan acara Seminar Nasional Peran pendidikan keluarga dalam mewujudkan generasi emas anak bangsa 2045 dengan mengangkat tema “Keluarga Harmonis, Ayah Hebat,Ibu Cerdas, Anak Sehat & Sukses”.

Hadir Deputi Kemntrian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak,  serta turut hadir sebagai narasumber diantaranya Kepala Dinas Pemberdayaan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk DKI Tuty Kusumawati,  Dr. Susanto, MA sebagai Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah Dra. Hj. Siti Noordjannah Djohantini, M.M., M.Si., BPH UHAMKA Prof. Dr. H. Yunan Yusuf, Rektor UHAMKA Prof. Dr. Gunawan Saputro, M.Hum. dan juga dihadiri sebanyak 518 peserta yang terdiri dari pimpinan UHAMKA, dosen, karyawan, mahasiswa, lembaga pengabdian dan pengembangan masyarakat.

Dalam sambutan ketua Panitia yang disampaikan oleh Dr. Sri Astuti, M.Pd. selaku sekretaris Pusat Studi Gender Dan Perlindungan Anak ( PSGPA ), acara seminar ini merrupakan acara puncak, dikarenakan sebelumnya acara yang dimulai pada tanggal 18 sampai dengan 23 desember lalu diadakanya berbagai kegiatan dan perlombaan yang diikuti oleh dosen, karyawan dan mahasiswa, seperti lomba pusi, pemeriksaan gratis kesehatan

Selain itu, Prof. Dr. Hj. Yoce Aliah Darma, M.Pd. selaku ketua ( PSGPA ) memiliki harapan kepada UHAMKA agar segera dijadikan sebagai Kampus Responsif Gender.

Rektor UHAMKA  Prof. Dr. Gunawan Saputro, M.Hum juga menyampaikan segenap civitas Pimpinan UHAMKA akan selalu mendukung dan bertanggung jawab penuh  atas program yang  telah ada, dan  PSGPA semoga akan terus bersinergi bersama KPAI dan KPPPA. Untuk kedepanya UHAMKA siap untuk menjadikan Kampus Responsif Gender, sejauh ini yang sudah dilakukan adalah bagaimana memberikan perlakuan yang baik terhadap mahasiswa seperti memberikan pelayanan mutu pendidikan yang baik, menyediakan fasilitas yang memadai, memberikan pengembangan pendidikan konseling dan pendidikan anak usia dini. Jelas Rektor “.

UHAMKA Luluskan 2.881 Wisudawan

Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (UHAMKA) menggelar wisuda Magister, Sarjana, dan Ahli Madya Tahun Akademik 2018/2019 ( Sabtu, 22/12/2018).

Pada wisuda kali ini, UHAMKA meluluskan sebanyak 2.881  mahasiswa yang terdiri dari 295 Magister (S2), 2.544 Sarjana (S1) dan 42 Ahli Madya (D3). Acara yang diselenggarakan di Plenary Hall, Jakarta Convention Center, Senayan ini dihadiri oleh Ketua Majelis Jakarta Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Lincoln Arsyad , Kepala LLDIKTI Wilayah 3 Jakarta Dr. Ir. Ilah Sailah, BPH UHAMKA, Rektor UHAMKA Prof. Dr. Gunawan Suryoputro, M.Hum., Wakil Rektor UHAMKA, Direktur Pascasajana, Para Senat, Dekan, Guru Besar, serta para dosen, karyawan UHAMKA dan para keluarga wisudawan.

Acara wisuda tahun ini mengangkat tema ‘’ Kesiapan Lulusan UHAMKA Dalam Menghadapi Era Distrupsi Revolusi Industri 4.0 “. Saat ini sudah masuk pada Era Industri 4.0 atau dikenal juga revolusi digital dan era disrupsi teknologi. Di segala sektor, isu perubahan pada Era Industri 4.0 banyak dibicarakan. Saat ini di Indonesia, era industri 4.0 sudah diterapkan dan sangat terasa pengaruhnya di masyarakat. Segala macam kegiatan sudah dinyatakan dalam bentuk digitalisasi, maka dari itu betapa Era Industri 4.0 bukan hal yang bisa dipandang sebelah mata, namun harus disikapi dengan bijak dan cerdas oleh semua kalangan, khususnya Perguruan Tinggi.

Dimana para mahasiswa yang tengah menuntut ilmu dan yang sudah lulus  harus bersiap menghadapi tantangan besar yang terjadi era Revolusi Industri 4.0 yang terjadi saat ini.  Tantangan tersebut  harus dihadapi sesuai  pola kerja baru  yang tercipta dalam  revolusi 4.0. Satu faktor yang penting adalah keterampilan dan kompetensi yang harus tetap secara konsisten ditingkatkan. Generasi milenial harus dipandang yang akan memajukan bangsa ini, karakter yang dimiliki oleh generasi milenial sendiri seperti optimis, cederung berani, mandiri, inovatif dan memiliki tendensi berbeda dalam beragama. “Konten-konten keagamaan berupa produk-produk digital tetap kuat dipelajari generasi milenial, cara beragama mereka berubah.

Tentunya ini juga menjadikan tantangan untuk Muhammadiyah ke depan yaitu bagaimana menyediakan berbagai aplikasi yang dapat digunakan untuk menunjang dakwah persyarikatan. Terlebih dalam memfasilitasi generasi milenial yang menjadi populasi paling banyak dari jumlah masyarakat Indonesia di mana mereka akan menentukan tren, seperti halnya UHAMKA sebagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah siap untuk menjadi generasi yang hidup di era industri 4.0 dan memiliki daya saing yang tinggi. tentunya UHAMKA akan berupaya meningkatktan kualitas mutu pendidikan yang lebih baik dan tentunya  akan menghasilkan lulusan yang memiliki nilai tambah sesuai kebutuhan pasar kerja.

Dalam kesempatan ini, rektor UHAMKA Prof. Dr. Gunawan Suryoputro, M.Hum. dalam persnya tak lupa menyampaikan ucapan kepada para wisudawan yang telah lulus dan tercapai apa yang mereka peroleh selama ini,  berharap para lulusan dapat berkarya nyata kepada masyarakat di sesuai bidang dan keterampilan nya masing- masing.

´’Selain itu, Rektor UHAMKA  berharap semoga suatu saat UHAMKA dapt mewujudkan dan membentuk Lembaga Keterampilan Bersetifikasi dengan memiliki berbagai  Program Keterampilan Edukasi yang diperuntukan untuk mahasiswa dengan tujuan menambah keterampilan professional dalam berbagai bidang, seperti : pemograman, kewirausahaan, dan keahlian lainya.  Ungkap Rektor “.

 

 

 

 

 

Tapak suci UHAMKA Raih Prestasi di Kejuaraan Nasional Pencak Silat Sinar Warna Nusantara Championship 5th

Tapak suci Putra dan Putri UHAMKA raih prestasi di kejuaraan Nasional Pencak Silat Sinar Warna Nusantara Championship 5th.  Tim Tapak Suci UHAMKA  didampingi oleh Gilang Kumari Putra, S.Sos, M.I.Kom selaku  Ketua Pembinaan dan Pengembangan Kemahasiswaan dan Alumni ( P3KA) UHAMKA, berhasil mendapatkan empat medali emas, delapan medali perak dan 4 medali perunggu. Acara kejuaraan tingkat nasional ini diikuti oleh ratusan peserta dan diadakan selama dua hari (19 sd 20 Desember 2018) di Jakarta.

Tim tapak Suci UHAMKA memperoleh penghargaan dalam kategori :

  1. Male Single Fight :
  2. Abdul Azis (Mahasiswa Teknik Informatika)
  3. dandi N.A (Mahasiswa Teknik Elektro)
  4. Krisdianto Aji ( Mahasiswa Ekonomi Islam)
  5. Dedy Dwi C (MahasiswaTeknik Informatika)
  6. Teguh Atmajaya (Mahasiswa Pendidikan Geografi)
  7. Ulin Nuha (Mahasiswa Ekonomi Islam)
  8. Satria Anjasmara (Mahasiswa Teknik Informatika)
  1. Female :
  2. Nurrifani (Mahasiswi Pendidikan Biologi)
  3. Dewi A (Mahasiswi PGSD)
  4. Fahria Tasia (Mahasiswi Pendidikan Ekonomi)
  5. Imelda (Mahasiswi Pendidikan Ekonomi)
  6. Riska Puji (Mahasiswi Pendidikan Ekonomi)

IMAPALA Uhamka Siap Ikuti Ajang Bergengsi Arung Jeram di Tingkat Nasional

Mahasiswa Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam (IMAPALA) adalah salah satu Unit Kegiatan Mahasisa (UKM) di Universitas Muhammadiyah Prof.Dr.Hamka (UHAMKA). Kegiatan Imapala umumnya berkisar di alam terbuka dan menyangkut lingkungan hidup. Jenis aktivitas meliputi pendakian gunung (mountaineering), pemanjatan (climbing), penelusuran gua (caving), pengarungan arus liar atau arung jeram (rafting), paralayang, penyelaman (diving) penghijauan dan bahkan penerbitan media-media yang bertema lingkungan. Akhir-akhir ini di mana degradasi lingkungan dirasa semakin parah, maka peran mapala sangat penting untuk membantu melestarikan lingkungan.

Selain itu, Imapala juga aktif di beberapa kegiatan sosial seperti menjadi relawan banjir Belitung. Serta meneliti keanekaragaman hayati beberapa hutan kota di Jakarta, tidak hanya itu program perlombaan yang diikuti seperti tergabung dalam team arung jeram yang beberapa kali menuai prestasi. Dan saat ini Impala Uhamka sedang mengikuti mengikuti Kejuaran Nasional Arung Jeram di Sungai Ciwulan Tasikmalaya Jawa Barat 10-16 Desember 2018, acara tersebut di dampingi oleh Gilang kumari Putra, S.Sos, M.I.Kom selaku  Ketua Pembinaan dan Pengembangan Kemahasiswaan dan Alumni ( P3KA) Uhamka beserta tim. 

Selamat dan Sukses Atas Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Hj. Nani Solihati, M.Pd.

Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) mmenyelenggarakan upacara Pengukuhan Guru Besar di Aula Ahmad Dahlan lt.6 FKIP UHAMKA, Jakarta Timur (Sabtu, 15/12/18). Acara pengukuhan tersebut diberikan kepada Profesor Prof. Dr. Hj. Nani Solihati, M.Pd. dalam bidang Bahasa dan Sastra Indonesia.

Acara ini dihadiri oleh Sekretaris Pelaksana Kopertis Wilayah III Jakarta Dr. M. Samsuri, S.Pd., M.T., Rektor UHAMKA Prof. Dr. Gunawan Suryoputro, M.Hum, Diktilitbang Prof. H. Suyanto, Ph.D., Ketua PWM DKI Jakarta,  BPH UHAMKA, Para Dekan, Dosen , Karyawan dan para mahasiswa UHAMKA.

Pengukuhan dilakukan dalam sidang senat terbuka yang dipimpin oleh Rektor UHAMKA Prof. Dr. H. Gunawan Suryoputro, M.Hum.

Pada kesempatan ini  Rektor UHAMKA Prof. Dr. H. Gunawan Suryoputro, M. Hum menyampaikan sambutanya bahwa menjadi guru besar merupakan pencapaian gelar akademik tertinggi yang menjadi impian semua dosen. Namun untuk mencapainya  membutuhkan proses serta perjuangan yang tidak mudah. Seperti halnya dengan Prof. Nani Solihati, M.Pd. pencapainya membutuhkan waktu selama 24 tahun demi mendaptkan gelar akademik tertinggi, jelasnya.

Meskipun prosesnya tidak mudah, rektor UHAMKA memberikan support untuk para semua dosen untuk selalu berjuang mencapai gelar akademik tertinggi tersebut. Dengan berbagai kemudahan yang diberikan oleh Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi, diyakini bahwa akan lebih banyak lagi lahir guru besar dari UHAMKA.

Tidak ada satupun karya sastra yang tanpa makna. Karya sastra selalu dibuat untuk memberi pesan dan merupakan formula tepat dalam pembentukan kareakter bangsa, dalam orasi  yang disampaikan oleh dari Prof. Dr. Hj. Nani Solihati, M.Pd.

Menurutnya  perlu sastra dalam pembentukan karakter seperti yang diinginka, yaitu menggencarkan karya sastra yang memberi manfaat, bukan sekedar memberi pengalaman yang menghibur kepada penikmatnya.

Prof. Nani juga menyampaikan dikarenaka budaya minat membaca saat ini sangat memprihatinkan, namun pada zaman milineal ini dengan teknologi semakin canggih, informasi dengan mudah diakses dan diperoleh, seperti halnya didalam dunia sastra, kini hadir teknologi sastra digital yang saat ini dapat diakses, dibaca dan dinikmati melalui internet, ungkap Prof Nani ”

BACK