SEMINAR NASIONAL PRODI PENDIDIKAN SEJARAH

“Merajut Kebhinekaan, Indonesia Bebas dari Paham Anti Pancasila”

Pada hari Jumat, 22 September 2017 telah terselenggara acara Seminar Nasional dengann tema “Merajut Kebhinekaan, Indonesia Bebas dari Paham Anti Pancasila” oleh Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UHAMKA bertempat di Aula Ahmad Dahlan Lantai 6 Gedung A FKIP UHAMKA. Acara dimulai pada pukul 13.50 oleh pembawa acara, yang dilanjutkan
dengan pembacaan kalam ilahi menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Muhammadiya, sambutan oleh Kaprodi Pendidikan Sejarah, Hari Naredi, M.Pd., dan sambutan sekaligus
pembukaan oleh Dekan FKIP UHAMKA, Dr. Desvian Bandarsyah, M.Pd. Pada pukul 14.28 dimulai acara inti, yakni seminar yang dipandu oleh moderator, Andi, M.Pd. Terdapat tiga pembicara dalam seminar ini, yaitu Mubarok Ahmad (Dosen UHAMKA), Dr. Abdul Syukur (Kaprodi Pendidikan Sejarah UNJ), dan Peter Kasenda (Sejarawan). Pembicara pertama, yakni Dr. Abdul Syukur, M.Hum. yang berbicara mengenai awal-awal penetapan Pancasila, lalu beliau berbicara mengenai ideologi-ideologi di dunia yang saat ini sedang “menyerang” Pancasila. Diantaranya ideologi liberalisme, yang saat ini mengancam keberadaan Pancasila dengan upayanya untuk mengawinkan Pancasila dengan liberalisme.
Selain itu, radikalisme juga turut mengancam keberadaan Pancasila. Pembicara selanjutnya, Peter Kasenda berbicara mengenai eksistensi Pancasila saat ini.
Beliau menyebutkan saat ini Presiden Joko Widodo membentuk UKP PIP sebagai bentuk usaha pemerintah untuk mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. Beliau pun menjelaskan kronologi kemunculan Pancasila, dibahas pula mengenai makna Pancasila per sila. Dalam pemaparannya, pembicara menyinggung bahwa Pancasila lahir karena kesepakatan bersama para pendiri bangsa. Beliau juga menggarisbawahi bahwa pendiri bangsa bukan hanya para lelaki, tetapi juga perempuan, karena ada dua perempuan yang terlibat dalam proses penyusunan dasar negara. Pembicara terakhir, Mubarak Ahmad, M.Pd. menjelaskan tentang peran pemuda dan mahasiswa untuk mempertahankan Pancasila, karena mereka menjadi garda terdepannya. Beliau menawarkan konsep bahwa Pancasila jangan dijadikan sebagai alternatif, lebih baik Pancasila dikumulatifkan (diperbaiki terus menerus), selain itu Pancasila jangan dibawa ke masalah politik, sehingga diharapkan tidak kacau nantinya. Dalam rangka menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dalam diri generasi muda, diperlukan adanya pemahaman tentang proses lahirnya Pancasila. Karena, saat ini banyak pihak yang hanya memahami Pancasila setengah-setengah, sehingga
seringkali salah mengartikan atau bahkan terang-terangan menolak Pancasila. Selanjutnya, diadakan sesi tanya jawab pada pukul 15.40 hingga 16.30. Acara dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat oleh Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UHAMKA,

Hari Naredi, M.Pd.. Acara Seminar Nasional ini pun ditutup pada pukul 16.38 oleh pembawa acara.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BACK