KERJA KERAS DEMI KULIAH

Luar Biasa dan Salut. Mungkin kalimat tersebut pantas diucapkan kepada mahasiswa dalam kisah perjuangan yang patut ditiru.

Sri Sugiyarti (21) mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) sedangkan adiknya Bella Selvia (20) mereka adalah kakak beradik yang saat ini berstatus menjadi mahasiswa Universitas Muhammadiyah prof. DR.HAMKA.

Dimulai selepas adzan subuh, mereka menuju pasar di Bekasi Timur untuk mengambil kue daganganya. Dengan diantar berjualan menuju kampus UHAMKA di Pasar Rebo, Jakarta Timur oleh sang ayah M. Syaftari (54) yang berprofesi sebagai supir tembak. Mereka berjualan mulai pukul 06.00 pagi hingga 17.00 sore . Dengan menjual rata-rata  200 potong kue sehari dengan harga Rp. 2.500 per potong. Berjualan dan kuliah menjadi rutinitas yang mereka jalanin dari hari Senin sampai dengan hari Jumat dan ini sudah berlangsung selama 4 tahun. Tidak ada kata mengeluh , mereka lakukan itu semua dengan hati nurani yang ikhlas, tidak ada rasa canggung atau pun malu. Meskipun kegiatan itu sangat menguras tenaga, namun hanya itu yang bisa dilakukan demi melanjutkan kuliah.

Pada saat awal kuliah, kami  tidak pernah meminta uang dengan orangtua, bahkan saat ini mereka sedang menabung membayar biaya ujian tengah semester (UTS), ungkap Sri yang memiliki Indeks Prestasi Komulatif 3,2.  Biaya ini digunakan demi  sang adik Bella yang saat ini duduk di semester V dan besar biaya yang diperlukan sebesar Rp. 3 juta. Sri sendiri untuk sementara cuti kuliah, dikarenakan tidak memiliki cukup dana untuk membayar kuliah.  Sedangkan ia pun tidak tega untuk meminta kepada orang tuanya yang hanya bekerja sebagai supir dan tukang urut.

Bukan hanya Sri dan Bella, kisah hidup perjuangan lainya yang cukup menyentuh hati adalah mahasiswi FKIP Universitas Muhammadiyah prof. DR. HAMKA  yakni Kristina (19) berjuang keras untuk membiayai kuliahnya dengan bekerja sebagai asisten rumah tangga, gaji yang diterima sebulanya adalah Rp.800.000,- namun itupun tidak dapat mencukupi kebutuhanya. Banyak kebutuhan yang diperlukan seperti kebutuhan peribadi hingga kebutuhan kuliah, membayar uang semester, UTS, membeli buku, dll. Gadis asal Pemalang Jawa Tengah ini yang orantuanya hanya berprofesi sebagai petani dimana pendapatnya sangat minim.  Untuk mentupi kekurangan biaya, ia berjualan kripik dan cemilan lainya selama 1 tahun terkahir di Lingkungan kampus. Ia mengaku berjualan dan menjadi asisten rumahtangga sangatlah berat, hal ini dilakukan agar tercapainya untuk menjadi seorang sarjana. Pokoknya saya harus lulus kuliah dan bekerja,syukur bisa punya food truck, ujarnya.

Sumber : Media Kompas

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BACK