FIKES ADAKAN PELATIHAN KONSELING UPAYA BERHENTI MEROKOK

Sebagai salah satu negara yang memiliki penduduk terbesar dan terpadat di dunia, Indonesia tentu memiliki banyak cerita tentang kasus-kasus rokok. Merokok merupakan faktor resiko dari berbagai masalah yang dapat memicu kematian, meskipun semua orang tahu akan bahaya yang ditimbulkan akibat merokok, akan tetapi perilaku tersebut tidak pernah surut.  Hal ini dirasakan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan rumah, kantor, kampus dan tempat umum lainya. Fenomena rokok ini merupakan suatu hal yang sangat dikhawatirkan dan patut diwaspadai, terlebih saat ini separuh dari perokok aktif itu merupakan kalangan remaja, bahkan hal yang paling memprihatinkan adalah saat ini rokok tidak saja membidik orang dewasa, namun kini sudah menyasar bocah yang notabene pelajar sekolah dasar (SD).

Oleh karena itu, sebagai Institusi kemasyarakatan, Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah yang memiliki jejaring amal usaha di seluruh Indonesia dituntut untuk lebih berperan dalam hal pendampingan berhenti merokok. Terlebih lagi Majelis Tarjih Tajdid dan Tajdid Pengurus Pusat Muhammadiyah telah mengeluarkan fatwa mengenai hukum merokok No. 6/SM/MTT/III/2010. Hal tersebut yang menjadi dasar tim Pengabdian masyarakat, khususnya bagi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UHAMKAmenyelenggarakan pelatihan kegiatan “Training of Trainer (TOT) Pendamping perilaku berhenti Merokok dengan pendekatan nilai-nilai keislaman.

Tujuan diselenggarakan kegiatan ini adalah melahirkan para pendamping perilaku berhenti merokok di kalangan masyarakat. Kegiatan dilaksanakan oleh tim pengabdian FIKES UHAMKA beranggotakan Dr. Sarah handayani, M. Kes, Elia Nur’ Ayunin, SKM, MKM dan Hidayati, SKM, MKM  (26/01/2018).  Adapun peserta yang mengikuti kegiatan pelatihan tersebut dari berbagai elemen, terdiri dari guru, komite dan orang tua siswa dari SMP 9 Muhammadiyah Jakarta, LPP AIKA UHAMKA, Aisyiah Jakarta, perwakilan klinik UHAMKA, para mahasiswa dan alumni dari FIKES UHAMKA serta masyarakat umum.

Dalam penyampainya, Dr. Sarah Handayani, M. Kesmengatakan bahwa keinginan perubahan perilaku berhenti merokok perlu ditunjang dengan lingkungan yang mendukung. Maka, seseorang yang sudah memiliki pengetahuan tentang bahaya rokok dan sudah memiliki keinginan untuk berhenti merokok, maka perubahan perilaku lebih dapat dicapai jika yang bersangkutan mendkelrasikan diri kepada orang lain tentang niatnya tersebut. Hal ini bisa dilakukan kepada keluarga, teman dekat, kakak dan lain-lain.

Ella Nur A’Yunin SKM, MKM menyampaikan terdapat suatu keadaan yang banyak dialami para perokok ketika mulai mengurangi frekuensi merokok atau berhenti merokok yang disebut dengan gejala Putus rokok (with drawal symptom) seperti sakit kepala, cemas, mual, gelisah dan banyak lagi. Kondisi tersebut adalah wajar dialami dan merupakan tanda-tanda kesembuhan. Kondisi tersebut akan dialami selama tiga bulan, sehingga diperlukan peran dan dukungan dari pendamping agar perokok bias tetap harus berproses menuju perilaku bebas rokok.

Dalam pelatihan ini, Hidayati, SKM, MM membagi trik yang dapat digunakan dalam kondisi yaitu dengan mengubah pola hidup menjadi lebih sehat, berolahraga, melakukan latihan pernafasan / relaksasi dan melakukan kegiatanpositif lainnya yang apat mengurangi rutinitas merokok.

Pelatihan terselenggara dengan baik berkat kerjasama dengan komunitas Aisyah kota Jakarta dengan dukungan dari LPPM UHAMKA. Sebagai umat muslim wajib hukumnya dalam mengupayakan pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan dirinya dan masyarakat setinggi – tingginya serta menciptakan lingkungan yang kondusif bagi terwujudnya suatu kondisi bagi terwujudnya suatu kondisi hidup sehat yang merupakan hak setiap orang. Hal tersebut merupakan bagian dari tujuan syariah (maqasid asy-syari’ah). Sehingga menjadi tugas seorang muslim untuk menjaga kesehatan dirinya dan juga masyarakat dan lingkungannya.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BACK