Keajaiban Resep Obat Nabi S.A.W. oleh Joko Rinanto

Membedah perjalanan hidup Nabi Muhammad S.A.W merupakan hal menarik untuk dikaji. Tak terkecuali menelisik lebih jauh bagaimana beliau mewariskan gaya hidupnya sebagai tuntunan untuk umatnya dalam menjaga tubuh agar tetap sehat dan bugar. Tidak ayal, sejak baginda Rasulullah S.A.W masih hidup, perilaku sehat itu langsung ditiru oleh para sahabatnya hingga berlanjut kepada generasi ulama-ulama salaf yang juga tidak mau ketinggalan mempraktikkannya.

Merekalah yang memopulerkan gaya hidup Rasulullah S.A.W dengan menghidupkan sunnah, menyelami hikmahnya, dan membukukannya. Karena itu, setiap zaman selalu ada ulama yang membuat bahasan mengenai cara hidup sehat Rasulullah S.A.W dalam sebuah bab atau buku tersendiri yang hingga sekarang dikenal dengan istilah Thibbun Nabawi (pengobatan Nabi).

Keajaiban Resep Obat Nabi S.A.W. adalah salah satu buku yang mengupas secara komprehensif praktik pengobatan yang diterapkan oleh Rasulullah SAW berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah. Di dalamnya diterangkan segala macam bentuk pengobatan Nabi SAW yang teruji khasiat dan keampuhannya dalam mengobati berbagai macam penyakit. Tidak hanya itu, buku ini juga mengulas secara mendalam seputar obat-obatan yang digunakan oleh Nabi sebagaimana tercantum dalam Al-Quran.

Isi dari buku ini meliputi sumber ilmu pengobatan Nabi; penerapan obat-obatan Nabi yang meliputi perkembangan terapi kesehatan; pentingnya belajar ilmu kesehatan; misteri dibalik wafatnya Nabi SAW juga turut dibahas secara mendetail berdasarkan dalil di dalam buku ini. Bahkan, penjelasan tentang jawaban atas fitnah yang dilontarkan kepada Rasulullah SAW mengenai tuduhan bahwa beliau menjiplak Harits ibn Kaladah dalam pengobatan.

5543997_00b4d65c-7889-41be-bfc7-d83c3182c005Joko Rinanto seseorang yang berlatar belakang pendidikan farmasi sekaligus wartawan pengisi rubrik Syifa di Majalah Suara Hidayatullah, buku ini menjadi sangat baik dan penting untuk dijadikan sebagai bahan rujukan utama Thibbun Nabawi. Selamat membaca dan semoga bermanfaat.

Joko Rinanto, penulis muda yang baru saja menelurkan buku berjudul Keajaiban Resep Obat Nabi SAW: Menurut Sains Klasik dan Modern, dan mengenyam pendidikan S1 di Jurusan Farmasi, Fakultas Farmasi dan Sains Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (UHAMKA), Jakarta. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Bidang Organsisasi dan Kader di Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) UHAMKA, Jakarta Selatan (Jaksel) dan saat ini dipercaya sebagai sekretaris jenderal di International Islamic Medicine Foundation (IIMF).

 

sumber : Gema.uhamka.ac.id

Haedar Nashir : Jadikan Milad Muhammadiyah Sebagai Tonggak dalam Membawa Muhammadiyah yang Unggul

Perayaan milad Muhammadiyah ke 104 kemarin, menurut Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah bukan hanya seremoni semata, melainkan ajang pembangkit spirit dan perubahan dalam membangun Muhammadiyah yang berkemajuan.

“Jadikan milad sebagai tonggak dan langkah kedepan untuk membawa Muhammadiyah yang unggul dalam berbagai kehidupan,” pungkas Haedar Kamis (17/11) malam ketika menyampaikan pidato milad Muhammadiyah yang ke 104 di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Haedar mengatakan, telah menjadi tantangan bagi pimpinan dan warga Muhammadiyah dalam menjadikan Muhammadiyah di seluruh tanah air jauh lebih maju. “Tugas dan tanggung jawab pemimpin, aktivis, kader, di persyarikatan untuk meningkatkan perekonomian, pendidikan, kesehatan. Serta bangkitkan semboyan sedikit bicara, banyak berfikir, dan banyak bekerja,” jelasnya.

Haedar berharap agar spirit milad Muhammadiyah yang ke 104 tersebut dapat berpengaruh kepada karakter bangsa. “Jangan menjadi bangsa yang menghujat dan fitnah, sehingga terpuruk satu sama lain. Untuk itu bangunlah bangsa yang religius, cerdas diatas nilai-nilai akhlak dan kebersamaan,” pungkasnya.

Pada milad Muhammadiyah kali ini, Pimpinan Pusat Muhammadiyah memberikan penghargaan kepad bidang pendidikan Muhammadiyah. “Penghargaan yang diberikan ini merupakan bagian kecil dari kisah sukses Muhammadiyah, dan harus di muhassabah serta ditingkatkan,” tegas Haedar.

Berikut ini daftar peraih Muhammadiyah Award Karya Kreatif Sekolah :

Kategori Guru Muhammadiyah dari daerah terpencil : Umar Sangaji dari Kabupaten Halmahera Timur, Propinsi Maluku Utara

Kategori guru TK Aisyiyah Bustanul Athfal yg menerima penghargaan dalam bidang Pendidikan:

  1. PUJIYATI, S.Pd. dari TK ABA Ngloro Saptosari, Gunung Kidul, mengabdi sejak 30-12-1989, aktif di PRA, PDA;
  2. SUKARMI dari TK Aisyiyah Bloran Kerjo, Karanganyar, lokasi dari kota 25 km dan pegunungan, masa kerja 36 tahun.

Kategori Karya Kreatif Sekolah            

Tingkat Sekolah Dasar (SD)

  1. SD Muhammadiyah Manyar:

*Indonesia Robotic Festival (IROF) 2015

*Java Robot Contest VII (JRC VII) PENS Surabaya

  1. SD Muhammadiyah 2 Pontianak:

*Alat Pendeteksi Asap Akibat Kebakaran Lahan dan Hutan

  1. MI Muhammadiyah Al Haq Kota Palu

*Lomba Robot Internasional di Jakarta dan Lombok

Tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP)

  1. SMP Muhammadiyah 4, Yogyakarta

*Detektor Tsunami

  1. SMP Muh 2 Surabaya

*Alat sensor hujan

Tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

  1. SMA Muhammadiyah 1 Babat Lamongan

*Penggunaan Kotoran Kambing sebagai Energi Alternatif Pengganti Batu Baterai

*Rekayasa Energi Pendingin Alternatif dari Bawah Tanah

  1. SMK Muhammadiyah 1 Imogiri, Bantul Yogyakarta

*Merancang dan Merakit Mobil Formula Tenaga Hybrid

  1. SMK Muhammadiyah Haurgeulis, Indramayu Jawa Barat

*Merancang mobil listrik tenaga surya Giwangkara

  1. SMK Borobudur 2 Jawa Tengah

*Pelopor Perakit Mobil SMK di Indonesiaa

 

 

SUMBER : Gema.uhamka.ac.id

Aksi 4 November Ricuh. Menurut Muhammadiyah : "Ada 3 Jenis Masa yang Terlibat"

Membahas terkait aksi unjuk rasa yang berakhir ricuh pada Jumat, 4 November 2016 kemarin, Sekjen Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mufti mengklasifikasikan bahwa setidaknya ada tiga jenis massa yang terlibat. Ia mengatakan bahwa terdapat dua kelompok massa dengan membawa agenda tersendiri yang tidak sejalan dengan aksi damai Bela Islam II.

Ia memuji pengunjuk rasa yang secara murni ingin menyampaikan pendapat agar proses penegakan hukum pada Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dipercepat. Menurutnya, aksi massa jenis itu berlangsung tertib dan damai. Namun ia tak memungkiri adanya massa lain yang ikut bergabung dalam jenis massa tersebut.

“Pengunjuk rasa kemarin ada tiga kategori yaitu pertama, kelompok murni aksi penegakan fatwa MUI; kedua, kelompok demo kepentingan Pilkada DKI karena yang bersangkutan (Ahok) bisa dipidana jadi tidak ikut Pilkada. Ketiga, ada kelompok anti-Cina yang cukup kuat jadi mereka ikut mendompleng,” katanya pada , Sabtu (5/11).

Ia mengaku selalu memantau pergerakan aksi unjuk rasa kemarin. Sehingga ia menyadari ada yang janggal saat massa di Jakarta Utara malah membuat kericuhan. Ia menyayangkan massa yang menumpang ikut-ikutan aksi kemarin, namun sebenarnya mempunyai agenda lain.

“Kalau ada massa yang menyerbu (di Jakarta Utara) itu kemungkinan kelompok jenis kedua dan ketiga, karena kelompok jenis pertama sudah pulang ketika sudah ada kesepakatan hasil pertemuan dengan Wapres. Mereka yang bentrok itu kelompok yang punya agenda politik atau agenda lain di luar agenda utama,” ujarnya.

Sebelumnya, ribuan massa umat Islam mengadakan aksi unjuk rasa 411 dengan berjalan kaki dari Masjid Istiqal menuju Istana Presiden menuntut dipercepatnya proses hukum terhadap Ahok. Ahok dinilai melakukan penistaan agama usai perkataannya mengenai surah Al Maidah ayat 51 menyinggung umat Islam.

 

 

sumber : Gema.uhamka.ac.id

 

Din Syamsuddin Ingatkan Kekerasan Berdasar Agama Merusak Harkat Martabat

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan kekerasan yang mengatasnamakan agama telah merusak harkat dan martabat kemanusiaan.

“Hal itu sekaligus ingin kita teguhkan akarnya pada ketidakadilan global. Karena itu kita ingin adanya kebersamaan masyarakat dunia dalam tanggung jawab,” kata Din saat memberi sambutan pembukaan World Peace Forum (WPF) Ke-6 di Istana Negara, Jakarta, Selasa malam (1/11).

Menurut Din, WPF Ke-6 mengangkat tema “Countering Violence, Extremism: Human Dignity, Global Justice and Collective Responsibility”.

Tema tersebut, ujar Din, dianggap penting didiskusikan mengingat situasi dunia yang menghadapi ancaman peradaban dan kejahatan kemanusiaan melalui extrimisme dan radikalisme.

Banyak terjadi peristiwa kekerasan yang mengatasnamakan agama maupun etnosentrisme bahkan kepentingan politik yang terjadi dan perlu diatasi bersama, ujar Din.

“Masalah yang kita hadapi terutama menanggulangi ketiadaan perdamaian dewasa ini haruslah dengan kerja sama. Tidak bisa hanya tokoh agama, tapi harus libatkan pihak-pihak lain termasuk pemerintah negara, dunia usaha, intelektual, termasuk media,” kata Din yang juga menjabat sebagai Ketua Center for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC).

Presiden Joko Widodo telah meresmikan pembukaan Forum Perdamaian Dunia/World Peace Forum (WPF) Ke-6 yang membahas perlawanan terhadap ekstremisme di Istana Negara.

Forum tersebut diselenggarakan pada 1-4 November 2016 di Hotel Grand Sahid Jakarta dan akan melibatkan 200 delegasi baik dari Indonesia dan negara asing.

WPF merupakan agenda dua tahunan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerja sama dengan CDCC dan Cheng Ho Multi-Culture Education Trust yang berbasis di Kuala Lumpur, Malaysia sejak 2006.

Forum Internasional dua tahunan ini pertama kali digelar di Jakarta pada 14-16 Agustus 2006 dengan tema One Humanity, One Destiny, One Responsibility. Sesuai dengan rekomendasi WPF-1, One Humanity, One Destiny, One Responsibility dijadikan sebagai tema tetap WPF. (dzar)

Sumber : MUHAMMADIYAH.OR.ID

Diskusi Terumpun Pimpinan Pusat Aisyiyah dan LPP AIKA UHAMKA

Bertepatan pada tanggal 28 Oktober 2016 kemarin di Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (UHAMKA) kampus A, jalan Limau II, Kebayoran Baru Jakarta Selatan, Majelis Hukum dan HAM bekerjasama dengan Lembaga Pusat Pengembangan (LPP) Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIKA) UHAMKA menyelenggarkan Diskusi Terumpun membahas RUU Penghapusan  Kekerasan Seksual

Kegiatan ini di hadiri oleh Majelis Hukum dan Hak Azazi Manusia (HAM) Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah, bersama LPP AIKA, Pimpinan Wilayah (PW) Aisyiyah Jateng, PW Aisyiyah Banten, dan Narasumber dari Komisi Nasional (KOMNAS) Perempuan, Ibu Masruchah, narasumber dari Universitas Indonesia, Dr. Eva Zulfa, mengupas perlunya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

Berdasarkan pemantauan sejak tahun 1998, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menyatakan bahwa kasus kekerasan seksual terus meningkat. Tahun 2015 dari 321.000 kasus yang terdokumentasi, maka seperempatnya adalah kasus kekerasan seksual.

Selain itu, Komnas Perempuan menemukan banyak kasus kekerasan seksual yang tidak dapat diproses hukum, karena penyidik tidak menemukan aturan di Kitab Undang-undang Hukum dan Pidana (KUHP) yang dapat digunakan untuk mengembangkan penyidikan. Pada konteks ini, maka sudah saatnya Indonesia memiliki regulasi khusus yang mengatur tentang kekerasan seksual.

Komnas Perempuan menganjurkan adanya terobosan melalui UU Penghapusan Kekerasan Seksual yang tidak hanya mengatur penindakan terhadap pelaku saja, tapi juga untuk memulihkan korban dan mencegah berulangnya kekerasan seksual dengan melibatkan masyarakat dan korporasi.

Selain itu, UU ini akan mengatur pemulihan dan juga pemberdayaan korban agar dia dapat melanjutkan kembali hidupnya, menawarkan mekanisme pembuktian yang memudahkan korban dalam proses penyidikan sehingga keterangan korban diakui sebagai alat bukti sepanjang didukung oleh satu alat bukti lainnya/adopsi sistem pembuktian di UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT).

Kemudian, UU ini mengusulkan beragam bentuk hukuman seperti Pidana Pokok Pidana Kurungan (gradasi dari rendah ke berat), restitusi (diputuskan dalam putusan hakim), dan rehabilitasi khusus untuk pelaku. Termasuk pidana tambahan berupa kerja sosial, pembatasan ruang gerak pelaku, sita benda/barang, pengumuman putusan hakim, dan lainnya.

Komnas Perempuan mengapresiasi keputusan Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi), yang menyatakan kekerasan seksual adalah kejahatan luar biasa dan berharap kelahiran UU Penghapusan Kekerasan Seksual dapat dilihat sebagai upaya serius dari pemerintah untuk menghentikan kejahatan yang luar biasa tersebut.

RUU Penghapusan Kekerasan Seksual ini sudah diajukan sebagai inisiatif DPR RI, dan saat ini sudah masuk prolegnas prioritas tahun 2016. Komnas Perempuan berharap pemerintah dapat memberikan dukungan agar proses pembahasannya berjalan lancar.

 

sumber : Gema.Uhamka.ac.id

Kunjungan Rabithah Islami ke UHAMKA

Wakil Rektor IV UHAMKA, Drs. Zamah Sari, M.Ag (3/10-2016)  menerima tamu perwakilan Rabithah Islami yang berkeinginan membuka kantor perwakilan di Indonesia dan membidik UHAMKA sebagai sekretariatnya.

Selain Organisasi Kerja sama Islam (OKI), lembaga Islam internasonal yang cukup berpengaruh di dunia adalah Rabithah Alam Islami. Organisasi yang juga dikenal sebagai Liga Dunia Islam adalah lembaga Islam nonpemerintah terbesar di dunia. Beberapa kegiatan yang rutin digelar Rabithah Alam Islami di Indonesia adalah konferensi media Islam internasional.

Rabithah Alam Islami didirikan pada Dzulhijah 1381 H atau Mei 1962 di Makkah, Arab Saudi. Organisasi ini disponsori Raja Arab Saudi Raja Faisal bin Abdulazis. Syekh Muhammad Surur terpilih sebagai Sekretaris Jenderal pertama Rabithah Alam Islami. Salah satu aktivitas pertama Liga Dunia Islam saat berdiri adalah mengawasi pembangunan Masjidil Haram.

Selain itu, tugas penting yang diemban Rabithah adalah menyampaikan risalah Islam dan ajarannya ke seluruh dunia. Menghilangkan kesan yang keliru tentang Islam yang ditimbulkan musuh-musuh Islam adalah agenda lain dari pendirian lembaga ini.

Dalam dakwah, Rabithah sering memanfaatkan musim haji dengan menggelar berbagai kajian tentang Islam di Makkah. Mereka juga mendukung dan memberi fasilitas para dai di seluruh dunia dalam melaksanakan agenda dakwahnya. Di bidang pendidikan, Rabithah memberikan bantuan kepada perguruan Islam di seluruh dunia.

Yang cukup menonjol, Rabithah juga menaruh perhatian serius terhadap pers dan media massa. Liga Dunia Islam menerbitkan berbagai jurnal dan produk jurnalistik dalam berbagai bahasa dan disebarkan ke seluruh dunia. Mayoritas, isinya tentang dakwah dan pendidikan.

Majalah yang diterbitkan Rabithah dalam bahasa Arab adalah Rabithah al-’Alam al-Islami. Majalah ini berisi informasi tentang ajaran dan dunia Islam, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Di samping itu, Rabitahh juga menerbitkan surat kabar pekanan bernama Akhbar al-’Alam al-Islami. Khusus untuk masyarakat yang berlatar belakang pendidikan Barat, Rabithah menerbitkan majalah berbahasa Inggris The Journal pada 1973. Khusus untuk masalah kemasjidan, liga juga menerbitkan majalah Risalah al-Masjid yang tersebar ke seluruh dunia.

Perhatian serius Rabithah soal media juga di tuang kan dalam Konferensi Media Islam Internasional pertama di Jakarta pada 1-3 September 1980. Muktamar yang dihadiri tak kurang 20 negara ini menghasilkan “Deklarasi Jakarta”. Salah satu poin dari deklarasi ini adalah pentingnya dibentuk kantor berita Islam untuk menyiarkan dan menonjolkan penyiaran berita dunia Islam. Indonesia kembali dipercaya sebagai tuan rumah konferensi kedua pada 2011 dan ketiga pada 2013.

Rabithah dalam sidang Majelis Ta’sisi pada 1974 membentuk Dewan Masjid Sedunia (al-Majlis al A’la al-’Alami li al-Masajid). Tujuan dibentuknya Dewan Masjid Sedunia ini untuk melindungi masjid beserta harta milikinya dari berbagai gangguan. Dewan Masjid Sedunia juga akan membela hakhak kaum minoritas Muslim untuk menjalankan ibadahnya di masjid. Kebebasan para dai untuk menyampaikan dakwah di masjid juga menjadi perhatian serius lembaga baru ini.

Lagi-lagi, meski berpusat dan dekat dengan Pemerintah Arab Saudi, Indonesia mengambil peran penting di Rabithah. Indonesia ditunjuk menjadi kantor perwakilan Dewan Masjid Sedu nia untuk wilayah Asia Pasifik. Kantor yang ber tempat di Jakarta diresmikan oleh Sekretaris Jenderal Rabithah Syekh Muhammad Ali al-Harakan bersama Alamsyah Ratu Prawiranegara yang menjabat menteri Agama RI saat itu. Kantor ini dipimpin mantan dirjen Pembinaan dan Kelembagaan Kementerian Agama RI Prof Timur Djaelani.

Kegiatan Rabithah untuk membela kaum Muslimin yang tertindas adalah mengecam pemerintahan Myanmar yang ingin menghapuskan identitas Islam di negeri itu. Rabithah juga mendukung kemerdekaan Palestina dari penjajah Zionis Israel.

 

sumber : gema.uhamka.ac.id ( http://gema.uhamka.ac.id/2016/10/03/kunjungan-rabithah-islami-ke-uhamka/ )

Indonesia Diharapkan Adopsi Kalender Islam Global

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketua Islamic Science Research Network (ISRN) Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA (Uhamka) Tono Saksono berharap Indonesia nantinya dapat mengadopsi kalender Islam global yang dalam waktu dekat akan dibahas dalam diskusi internasional di Istanbul, Turki. Menurut Tono, kalender Islam global diperlukan demi persatuan umat Islam, khususnya dalam beribadah.

“Kami memperjuangkan agar kalender Islam global dapat diterima,” kata anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini dalam konferensi pers Seminar Nasional bertemakan “Kalender Hijriyah Global: Sebuah Kenisyacaan!” pada Kamis (26/5), di Jakarta.

Tono mengungkapkan, Muhammdiyah sebelumnya sudah pernah terlibat dalam diskusi internasional terkait kalender Islam global sejak beberapa tahun yang lalu. Memperjuangkan kalender Islam global, menurut Tono, sudah menjadi tugas dan tanggung jawab Muhammadiyah. Dia menjelaskan, kalender Islam global sudah direkomendasikan dalam muktamar Muhammadiyah di Makassar tahun lalu.

Beberapa waktu ke depan, menurut Tono, kalender Islam global akan dikaji oleh para pakar dari berbagai negara di seluruh dunia di Istanbul, Turki, untuk kemudian memutuskan kriteria apa yang akan digunakan dalam menetapkan kalender Islam global. Jika telah ditetapkan, akan dilakukan kajian-kajian lebih mendalam dengan melibatkan majelis tarjih di setiap pimpinan daerah Muhammadiyah dan mencari perbandingannya dengan kalender Islam lokal.

“Tapi kajian-kajian itu akan bersifat independen kemudian akan dilaporkan ke Majelis Tarjih Muhammadiyah,” kata Tono.

Diakuinya, kajian-kajian ini akan memakan waktu yang cukup lama. Kalender Islam global ini harus dikomunikasikan terlebih dahulu dengan pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama, para stakeholder dan masyarakat luas. “Kami akan segera memulai menyosialisasikan kalender Islam global,” tegasnya.

Selama ini, penentuan sejumlah ibadah dalam kalender Islam di Indonesia sering diwarnai perbedaan. Contohnya, ketika menentukan awal Ramadhan, Muhammadiyah, Persis (Persatuan Islam), dan Nahdlatul Ulama (NU) menggunakan pedoman kriteria yang berbeda-beda sehingga berbeda pula waktu memulai ibadah puasa. 

Dalam menyusun kalender Islam, maka berpedoman pada hisab wujudul hilal dengan kriteria ijtima terjadi sebelum matahari terbenam dan saat matahari terbenam bulan masih di atas ufuk. Ramadhan tahun ini, Muhammadiyah menetapkan titik acuan di Yogyakarta dengan berpatokan pada ijtima geosentris.

Ijtima atau konjungsi terjadi pada Ahad 5 Juni pukul 10.51 WIB dan matahari terbenam pada 17.28 WIB, sementara bulan terbenam pada 17.48 WIB. Dari data ini, Muhammadiyah menetapkan pada Ahad (5/6), tepatnya saat maghrib sudah memasuki Ramadhan. 

Menag: Penyatuan Kalender Hijriyah Beri Manfaat Besar Bagi Umat

Penyatuan kalender hijriyah akan memberikan manfaat besar bagi umat dari segala aspek. Pada aspek sosiologis misalnya akan memperkuat persatuan umat Islam di segala penjuru. Pada aspek Iptek, upaya ini akan menjadi sarana mengelaborasi ilmu falak dan fikih serta teknologi bidang astronomi dan telekomunikasi.

IMG-20160618-WA0012“Penyatuan kalender hijriyah atau sebutlah Kalender Islam sebenarnya tidak sulit, asalkan ada kemauan untuk bersatu dan menyamakan persepsi,” terang Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang tampil sebagai Keynote Speech Seminar Nasional Kalender Hijriyah Global  di Kampus Uhamka Pasar Rebo Jakarta, Jumat, (17/6).

Selain Rektor Uhamka Suyatno, tampak hadir dalam acara tersebut Direktur Urais Kementerian Agama Muhammad Thamrind, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Syamsul Anwar, Islamic Science Research Network UHAMKA Tono Saksono dan  Kakanwil Kemenag Provinsi DKI Jakarta Abdurrahman.

Mengutip Ketua LAPAN Dr Thomas Djamaludin, Menag mengatakan, ada tiga syarat untuk menjadikan Kalender Islam sebagai perhitungan waktu yang mapan dan dapat diterapkan secara nasional, regional maupun global. Pertama, ada otoritas tunggal yang menjaga sistem kalender. Kedua, adanya kriteria yang disepakati. Ketiga, ada batas wilayah yang jelas.

“Marilah segera menemukan kesepakatan yang maslahat. Kita harus berpandangan kedepan agar tidak hanya karena satu hal, yakni urusan rukyat dan hisab saja, agama dipandang sebagai beban kemajuan zaman,”  kata Menag yang juga berharap proses yang sudah berjalan hampir 20 tahun ini tidak semakin panjang.

Dikatakan Menag, sejak dua dekade silam, Kementerian Agama menaruh perhatian serius terhadap penyatuan standar dan kriteria penetapan awal bulan Qamariyah. Pada tanggal 24 Maret 1998 di Bogor, digelar musyawarah ulama, ahli hisab dan ormas Islam tentang kriteria Imkanur-rukyat. Pada tahun 2007 diselenggarakan dua kali dialog antar Nahdalatul Ulama dan Muhammadiyah yang berujung komitmen terhadap upaya penyatuan kalender hijriyah.

Atas penyelenggaraan seminar ini, Menag mengapresiasi UHAMKA yang telah menginisiasi seminar nasional dengan tema  penyatuan kalender Islam, kalender global ini. Menurutnya, ini adalah  suatu yang sangat penting dan tema yang sangat relevan, tidak hanya umat Islam Indonesia tetapi umat Islam dunia.

“Karena untuk menentukan kapan 1 Ramadhan, kapan 1 Syawal dan Dzulhijjah itu, sangat memerlukan cara kita bagaimana menentukan itu semua,” ujar Menag.

“Kita terus berupaya untuk menyamakan persepsi, karena itu juga tentu apa yang juga dilakukan oleh civitas akademika, oleh dunia akademisi ini yang didukung oleh pemerintah ini juga perlu didukung juga oleh ormas – ormas islam semua, tokoh-tokoh agama kita, kita memiliki cara pandang yang sama dalam menentukan kapan awal Ramadhan, 1 Syawal,”  imbuh Menag. (ba/dm/dm). Dikutip dari situs Kementrian Agama https://www.kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=377999

Ribuan Peserta Padati UHAMKA Jakarta, 27-28 Mei 2016

 

 

JAKARTA – UHAMKA , 24/05/2016 The International Olyq adalah program bersama sekolah Muhammadiyah, sekolah Indonesia dan sekolah-sekolah di Asia Tenggara dalam rangka mengapresiasi bakat dan minat para peserta didik dalam bidang keagamaan dan ilmu pengetahuan umum dalam bentuk kompetisi dan silaturrahim. Sebelumnya kegiatan ini berskala nasional. Karena keinginan meningkatkan hubungan dengan sekolah-sekolah di Negara Asia Tenggara, maka even ini di tambah dengan The International Olyq.

 

Dalam event ini akan dikompetisikan berbagai cabang Olimpiade Quran dan Technology. Peserta lomba adalah seluruh peserta didik muslim dari Negara-negara yang berada di Asia tenggara dari tingkat dasar sampai menengah atas. Dengan kegiatan ini diharapkan kompetensi minimal seorang muslim dapat dikuasai dengan baik bagi peserta didik muslim di Negara-negara Asia tenggara di imbangi juga penguasaan technologi di era Globalisasi ini. , Menurut Presiden JPSM – Indonesia ,” Alkhamdulillah. Baru 2 tahun JPSM berdiri sudah bisa menyelenggarakan Olympiade al-Qur’an (Olyq) 2 kali. Olyq pertama diselenggaralan di Cilacap. Olyq II yang insha Allah akan digelar di UHAMKA tanggal 27-28 Mei 2016. Laporan dari panitia pendaftar telah mencapai angka 1000 lebih. Untuk Olyq II insha Allah ada peserta dari Thailand, Singapura, Malysia dan Bruney Darusalam.

Untuk Olyq II ikut dilombakan juga robotik, roket air dan perkenalan drone. Selain lomba untuk siswa Olyq II juga melombakan prestasi guru dalam bentuk bespractice yang juga dipresentasikan.

Guru dan kepala sekolah Muhammadiyah yang selama ini hanya berkomunikasi lewat medsos 27 dan 28 Mei akan kopi darat di UHAMKA. Selain itu selama ini mereka saling berbagi, saling memberi dan saling menguatkan, besok akan beradu prestasi SELAMAT BEROMBA LASKAR JPSM.
Salam dari Presiden JPSM.(H. A)

ISRN UHAMKA Akan Gelar SEMINAR NASIONAL “Kalender Hijriyah Global: Sebuah Keniscayaan!”

IMG-20160524-WA0000KONFERENSI PERS

SEMINAR NASIONAL

 “Kalender Hijriyah Global: Sebuah Keniscayaan!”

Kamis 26 Mei 2016 / 19 Sya’ban 1437 H

Islamic Science Research Network (ISRN) UHAMKA sejak awal 2016 secara resmi dibentuk oleh Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (UHAMKA). Awalnya ISRN dibentuk sebagai usaha UHAMKA dalam berkontribusi atas poin ke-4 dari 13 rekomendasi Muktamar Muhammadiyah di Makassar, yaitu “Penyatuan Kalender Islam”. ISRN yang di gawangi oleh Prof. Tono Saksono, Ph.D sebagai ketua, K.H.M. Ma’rifat Iman, M.Ag sebagai Wakil Ketua (dimana keduanya merupakan anggota Majelis Tarjih dan Tarjih PP. Muhammadiyah) dan Adi Damanhuri, M. Si. (anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PW Muhammadiyah DKI Jakarta, lulusan Astronomi ITB) sebagai sekretaris, kini mengembangkan cakupannya tidak hanya terkait kalender hijriyah, namun meluas untuk riset-riset yang bersendikan integrasi antara ilmu pengetahuan dan Islam.

ISRN berencana akan mengadakan seminar nasional dengan tema “Kalender Hijriyah Global: Sebuah Keniscayaan!”, pada Kamis 26 Mei 2016 atau 19 Sya’ban 1437 H di kampus UHAMKA jalan Limau Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Seminar yang akan menghadiri para pembicara yang merupakan para ahli dalam diskursus kalender hijriyah, seperti Prof. Tono Saksono, Ph.D (Ketua ISRN UHAMKA, Anggota MTT PP Muhammadiyah), Prof. Thomas Djamaludin (Ketua LAPAN RI), Dr.-Ing. Khafidz (Kepala Pusat Pengelolaan dan Penyebarluasan Informasi Geospasial), Dr. Pranoto Hidaya Rusmin (ITB) dan K.H.M. Ma’rifat Iman, M. Ag (ISRN UHAMKA), akan membahas perkembangan terkini terkait usaha penyatuan kalender hijriyah dan tantangan serta dinamika yang ada, termasuk sedikit penjelasan mengenai kapan jatuhnya Ramadhan dan Syawal 1437 H.

Muhammadiyah melalui maklumat nomor: 1/MLM/I.0/E/2016, dengan berpedoman pada hisab hakiki Wujudul Hilal (WH) telah menetapkan jatuhnya 1 Ramadhan 1437 H pada Sening Pahing, 6 Juni 2016 M, 1 Syawal 1437 H jatuh pada Rabu Pahing 6 Juli 2016 M, serta 1 Dzulhijjah 1437 H jatuh pada Sabtu Legi 3 September 2016 M yang artinya hari Arafah (9 Dzulhijjah 1437 H) jatuh pada hari Ahad Wage 11 September 2016 M dan hari raya Idul Adha (10 Dzulhijjah 1437 H) jatuh pada Senin Kliwon 12 September 2016 M.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama, yang berpedoman kepada kriteria Imkanur Rukyat (IR) MABIMS yaitu masuknya bulan hijriyah baru jika saat Matahari terbenam pada hari terjadinya konjungsi, tinggi Bulan (Moon Altitude) minimal 2o, jarak antara Bulan dan Matahari (Elongasi) minimal 3o, dan umur Bulan (perbedaan waktu antara konjungsi dan terbenamnya Matahari) minimal 8 jam, baru akan menetapkan 1 Ramadhan 1437 H melalui sidang itsbat yang akan dilaksanakan pada Minggu 5 Juni 2016.

BACK